MAKAM RADEN AYU BRONTO TELIH DK. MANCASAN,
DESA KRASAK, KEC. TERAS, KAB. BOYOLALI
Sejarah singkat dari sesepuh Dk. Jering yang sudah
meninggal dunia bahwa di Dukuh Kembang Lampir, Ds.
Gumukrejo Kecamatan Teras sebelum Kerajaan Surakarta
berdiri ada seorang tokoh bernama Ki Ageng Kembang
Lampir. Ki Ageng Kembang Lampir mempunyai seorang
anak bernama Raden Ayu Bronto Telih. Setelah menginjak
usdia dewasa Raden Ayu Bronto Telih hamil tanpa diketahui
siapa yang telah menghamilinya, sehingga membuat Ki
Ageng Kembang Lampir marah-marah dan malu terhadap
warga karena anaknya hamil tanpa diketahui siapa ayah dari
calon bayi yang dikandung Raden Ayu Bronto Telih.
Karena takut akan kemarahan ayahnya Raden Ayu Bronto
Telih secara diam-diam pergi dari rumah.
Mengetahui anaknya pergi dari rumah, tersadarlah Ki Ageng
Kembang Lampir timbul rasa sesal dan belas kasihan.
Setelah ditungu selama beberapa hari Raden Ayu Bronto
Telih tidak kunjung pulang, Ki Ageng menyuruh warga agar
mencari anaknya, namun tidak menemui hasil.
Alkisah di Dukuh Kembang Lampir ada seorang pencari
burung dengan senjatanya berupa tulup (berupa buluh
panjang yang berfungsi sebagai pelontar semacam peluru
dengan cara ditiup) sedang berburu burung, kebetulan si
pencari burung melihat ada seekor burung perkutut hinggap
di sekitar rumah Ki Ageng Kembang Lampir namun ketika
hendak ditangkap burung tersebut terbang menjauh dan
selalu begitu ketika hendak ditangkap terbang kearah barat
laut, pada akhirnya sampailah pengejarannya disebuah
punthukan (bukit kecil) dan burung perkutut tersebut
hinggap pada dahan pohon serut, si pencari burung
terheran-heran karena setelah dicari-cari tidak ditemukannya
burung perkutut itu namun betapa terkejutnya si pencari
burung mendapati sesosok bayi yang baru saja lahir dan
perempuan dengan kondisi setelah melahirkan tetapi sudah
tidak bernyawa, setelah dia mendekat si pencari burung
mengenali sosok tersebut yang tidak lain adalah Raden Ayu
Bronto Telih anak Ki Ageng Kembang Lampir yang selama
ini dicari-cari keberadaannya.
Lalu pencari burung tersebut membawa pulang jabang bayi
tersebut ke rumah Ki Ageng Kembang Lampir serta
membawa kabar berita bahwa Raden Ayu Bronto Telih telah
meninggal dundia.
Singkat cerita Ki Ageng Kembang Lampir kemudian
membawa jasad Raden Ayu Bronto Telih dan dimakamkan
di puntuk / gumuk yang kemudian diberikan nama Gumuk
Selo Bentar yang sampai saat ini oleh masyarakat Dukuh
Jering dan sekitarnya dikeramatkan dan setiap hari Selasa
dan Jumat berdatangan masyarakat untuk berziarah,
berdoa, memohon berkah di Makam Raden Ayu Bronto
Telih. Setiap bulan Ruwah diadakan pula ditempat ini acara
ritual Sadranan.
Dengan panorama Padas Gilik (tebing berketinggian ± 20m)
dan pemandangan alam disekitar bantaran Sungai butak
menambah keasrian tempat ini menunggu dikembangkan
menjadi salah satu obyek tujuan wisata.
Minggu, 06 Oktober 2013
Simo Boyolali
ASAL MULA NAMA SIMO
Sawah dan ladang milik Kyai Singoprono subur dengan hasil
melimpah ruah, namun kesemuanya itu merupakan hasil
kerja keras dan doa yang senantiasa menghiasinya.
Suatu malam yang cerah, bulan dan bintang bersinar terang,
dengan membawa tombak saktinya, Kyai Singoprono pergi
ke sawah untuk melihat-lihat apakah tanamannya aman dari
gangguan hama dan binatang.
Dengan berhati-hati dan waspada Kyai Singoprono
mengelilingi sawahnya, dan Kyai Singoprono merasa
tentram, sebab tanamannya tak satupun yang rusak.
Namun hatinya gundah tak menentu tapi tidak mengetahui
sebabnya, sebentar-sebentar dilihatnya sawah didepannya
walaupun tidak terlihat sesuatu apapun kemudian duduk
kembali untuk waspada terhadap suara-suara yang
mencurigakan tetapi tak ada sesuatu peristiwa yang
menjawab kegundahan itu.
Setelah sementara waktu dari kejauhan sayup terdengar
suara gemuruh datang mendekat dan terus mendekat ke
arah Kyai Singoprono duduk, dan semakin lama terdengar
jelas banyak kaki-kaki binatang besar berlari mendekat.
Berdegup kencang jantung Kyai Singoprono mendengarnya.
Waspada dengan tombak sakti ditangan dan terjawab
kegundahan hatinya, dari arah depan datang segerombolan
babi rusa menghampiri sawahnya dan mereka berpesta
pora, makan dan merusak tanamannya. Kyai Singoprono
berfikir sejenak akan ditangkapnya babi rusa itu namun
karena banyak akhirnya diurungkan niat dan diteguhkan
hatinya untuk menyerang kawanan itu..
Kyai Singoprono mengendap-endap mendekati kawanan
babi rusa itu dan setelah mantap hatinya maka dibidikkanlah
tombak pusaka ditangan dan dilempar dan mengenai salah
satu babi rusa itu namun aneh bukannya roboh dan mati
tetapi terus berlari seperti tak terkena senjata tombak itu.
Oleh karena serangan yang tiba-tiba, kawanan babi rusa itu
terkejut dan tunggang langgang lari masuk kembali menuju
hutan.
Oleh karena tombak saktinya tertancap pada salah satu babi
rusa tersebut Kyai Singoprono terus mengejar berharap babi
rusa yang terkena tombaknya akan mati kehabisan tenaga.
Terus mengejar seakan ada kekuatan gaib merasuki diri
Kyai Singoprono sehingga mendapat kekuatan untuk berlari.
Setelah lama dikejar sampailah Kyai Singoprono ditengah
hutan dan sekoyong-koyong keadaan sekitar Kyai
Singoprono berubah menjadi alun-alun keraton dan
didepannya tampaklah istana keraton nan megah. Kyai
Singoprono merasa bahwa dirinya bermimpi dan dicubitnya
lengannya namun masih merasa sakit, Kyai Singoprono
berjalan mendekati istana tersebut lalu tampaklah prajurit
yang menjaga istana datang menghampirinya dengan
tergesa-gesa dan kemudian bertanya kepada prajurit
penjaga.
Penjaga tersebut bercerita bahwa puteri raja sedang sakit
keras dan telah diupayakan melalui berbagai cara dan
berbagai pengobatan namun tak kunjung sembuh dan Raja
telah membuat sayembara yang bunyinya barang siapa
yang bisa mengobati sakit sang puteri, bila laki-laki akan
dijadikan menantu dan apabila wanita akan dijadikan
saudara bagi puterinya. Mendengar cerita itu Kyai
Singoprono ingin mencoba mengobati penyakit sang puteri
raja. Setelah mendapatkan ijin Kyai Singoprono diantar
berjalan menuju ruang peristirahatan sang puteri, dan
setibanya disana terlihat keluarga raja sedang berduka dan
tak kuasa menahan tangis.
Dipersilahkan Kyai Singoprono mengobati sang puteri.
Setelah diraba dengan dibubuhi mantra Kyai Singoprono
menemukan pada pangkal paha sang puteri tertancap
tombak saktinya. Betapa terkejutnya Kyai Singoprono akan
hal itu namun disembunyikan perasaannya dan ia yakin
bahwa tombak saktinyalah yang menyebabkan sang puteri
sakit.
Benar adanya setelah tombak sakti tersebut dicabut dan
dimasukkan ke dalam kantong baju Kyai Singoprono secara
ajaib sebuhlah sang puteri dari sakitnya.
Sesuai dengan janji sang raja maka Kyai Singoprono
dijadikan menantu sang raja dan diadakan pesta yang
meriah dan entah kekuatan apa yang merasuki Kyai
Singoprono sehingga tidak ingat akan dirinya yang telah
memiliki isteri.
Hari demi hari berlalu dan mereka hidup rukun saling
mencintai dan tiba-tiba teringatlah Kyai Singoprono kepada
isterinya dan ingin pulang untuk menemui isteri yang telah
lama ia tinggalkan.
Maka Kyai Singoprono pamit untuk pergi mengembara untuk
waktu yang agak lama.
Setelah diijinkan berangkatlah Kyai Singoprono menuju ke
kampung halamannya, namun betapa terkejutnya setelah ia
bertemu orang-orang yang berteriak babi rusa dan
mengejarnya, begitulah seterusnya berulang kali sampai
suatu saat merasa lelah dan pulang kembali menuju
kerajaan sang puteri.
Kyai Singoprono berfikir sejenak dan memohon kepada
Tuhan agar diberikan petunjuk mengenai apa yang terjadi
pada dirinya.
Dan teringat pulalah pada pakaian yang ia kenakan pada
waktu mengejar babi rusa dan segera seperti mendapatkan
petunjuk saat itu juga dilepaskan pakaian barunya dan
dikenakannya kembali pakaian usangnya dan setelah itu ia
minta ijin lagi kepada isteri barunya untuk kembali pergi
meneruskan perjalanan, anehnya dalam perjalanannya Kyai
Singoprono tidak dikejar-kejar orang lagi dan tidak ada yang
meneraki babi rusa lagi.
Setelah berjalan seharian menjelang maghrib sampailah
Kyai Singoprono di tepi kampung halamannya dan beberapa
saat kemudian sampai di depan rumahnya namun terkejut
bukan kepalang karena sayup-sayup terdengar suara doa
yang dipanjatkan seperti bila ada orang yang mempunyai
hajat kenduri. Dengan perasaan yang kurang enak Kyai
Singoprono terus berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Begitu melihat Kyai Singoprono orang-orang yang tadinya
berdoa di dalam rumahnya berhamburan keluar dengan
wajah pucat pasi tak ada yang berani menatap Kyai
Singoprono dan perempuan-perempuan yang ada di dapur
tak ada yang bisa berlari karena kaki mereka seperti dipaku
ke tanah akibat melihat Kyai Singoprono. Segera Kyai
Singoprono menghampiri isterinya dan lama sekali mereka
berpandangan melepas rindu dan tanda tanya yang selama
ini menyelimuti kepergian Kyai Singoprono. Orang-orang
yang tadinya lari tunggang langgang pun memberanikan diri
kembali masuk ke dalam rumah dan ingin tahu kejadian apa
sebenarnya yang telah dialami oleh Kyai Singoprono. Ya,
kepergian Kyai Singoprono telah 3 tahun (1000 hari)
lamanya meninggalkan isterinya.
Semenjak saat itu menjadi tradisi bagi masyarakat sekitar
Simo dan Walen bahwa bila ada sanak keluarga yang hilang
setelah 3 tahun tidak pulang maka keluarga itu tidak
mengharapkan kembali atau dengan anggapan bahwa telah
meninggal dunia tetapi apabila kurang dari 3 tahun maka
keluarganya masih tetap mencari dan mengharapkan
kedatangan sanak keluarga yang hilang tersebut.
Kembali kepada Kyai Singoprono yang telah kembali kepada
kehidupan kesehariannya yang setelah mengalami kejadian
tersebut menjadi lebih tekun beribadah dan bertambah
taqwa kepada Yang Maha Kuasa. Cerita tentang Kyai
Singoprono yang telah menghilang selama 3 tahun tersebut
menjadi buah bibir tersebar sampai ke seluruh pelosok
negeri sampai ke Kerajaan Demak dan sang Sultan Demak
ingin bertemu dengan Kyai Singoprono dan ingin
mengetahui kesaktiannya apalagi saat itu Sultan memiliki
rencana untuk menaklukkan Raja Pengging. Akhirnya Sultan
Demak berangkat sendiri menyamar menjadi rakyat jelata
yang miskin dan dikawal pasukannya menuju kediaman Kyai
Singoprono di Desa Walen hal tersebut dilakukan agar Kyai
Singoprono tidak mengenal sang Sultan dengan pakaian
kebesarannya sebagai seorang raja. Setelah berjalan
berhari-hari sampailah Sultan Demak di sebuah desa yang
disitu tumbuh sebatang pohon duwet putih yang rindang dan
Sultan Demak ingin beristirahat barang sejenak dan
diperintahkannya beberapa prajuritnya untuk mencari
keterangan dimanakah rumah Kyai Singoprono, setelah
mendapatkan keterangan dari penduduk desa kembalilah
prajurit menemui sang Sultan dan meneruskan perjalanan
kembali menuju kediaman Kyai Singoprono. Sesampainya di
rumah Kyai Singoprono sang Sultan duduk di depan pintu
rumah sambil meminta sedekah. Saat itu Kyai Singoprono
sedang makan siang dan segera ditinggalkannya makanan
yang sedang disantapnya kemudian datang menghampiri
pengemis itu dan dipersilakan untuk masuk dan makan
bersamanya. Namun pengemis itu bertanya kepada Kyai
Singoprono mengapa seorang pengemis yang hina papa di
persilakan dan diperlakukan demikian? Jawab Kyai
Singoprono bahwa hal tersebut adalah tindakan yang biasa
dan harus dilakukan kepada siapapun juga tidak boleh
pandang bulu apalagi saya tahu bahwa anda bukan
pengemis dan anda adalah Sultan Demak yang sedang
menyamar menjadi seorang pengemis dan perlu
diperlakukan dengan hormat. Takjublah sang Sultan
mendengar hal tersebut dan mengambil kesimpulan bahwa
memang berita yang sang Sultan dengar selama ini
bukanlah isapan jempol semata, melainkan sebuah
kenyataan bahwa Kyai Singoprono adalah seorang yang arif
bijaksana baik dalam perkataan dan perbuatannya juga sakti
mandraguna, sampai-sampai sang Sultan terduduk di depan
Kyai Singoprono namun Kyai Singoprono menempatkan diri
sebagai rakyat biasa yang menghadap rajanya.
Kyai Singoprono dan sang Sultan terlibat dalam
pembicaraan yang panjang lebar dan disampaikan pula oleh
sang Sultan keinginannya untuk menaklukkan Kerajaan
Pengging dan telah disiapkan pasukan menuju ke Kerajaan
Pengging dan sekarang tengah beristirahat di sekitar pohon
duwet putih menunggu perintah sang Sultan, namun apa
yang menjadi keinginan sang Sultan tidak dikabulkan oleh
Kyai Singoprono dan apabila sang Sultan berperang akan
menemui kegagalan namun sang Sultan tetap pada
pendiriannya sehingga terus terjadi perdebatan diantara
mereka berdua. Setelah lama berdebat sang Sultan tetap
pada pendiriannya mengajukan syarat apabila Bende
pusaka Kyai Bercak yang tergantung dipohon duwet putih
tempat pasukan Kerajaan Demak dipukul dan mengeluarkan
bunyi keras maka Kyai Singoprono akan setuju tetapi
kebalikannya apabila bende pusaka yang tergantung
dipohon duwet putih tempat pasukan Kerajaan Demak
dipukul dan mengeluarkan bunyi tidak keras maka dia tidak
setuju dengan apa kehendak sang Sultan dan memohon
sang Sultan untuk kembali ke Kerajaan Demak beserta
pasukannya. Menanggapi perkataan Kyai Singoprono sang
Sultan pergi meninggalkan Kyai Singoprono menuju pohon
duwet putih (sekarang masih hidup dan terletak di sebelah
barat Kantor Kecamatan Simo, Boyolali) kemudian
memerintahkan kepada salah seorang prajuritnya untuk
memukul Bende Pusaka Kyai Bercak dan ternyata setelah
dipukul mengeluarkan bunyi hanya seperti harimau yang
mengaum. Suara itu terdengar sampai jauh dan
mengundang perhatian banyak orang karena memang di
daerah tersebut sering terdapat gangguan harimau.
Orang-orang di daerah itu lalu menuju arah dimana
datangnya suara tadi untuk mengejar harimau tersebut dan
sampailah orang banyak tersebut di tempat dimana pasukan
sang Sultan berhenti tepatnya dipohon duwet putih tempat
Bende pusaka Kyai Bercak dikaitkan diatasnya.
Berkatalah orang banyak tersebut tentang suara yang
mereka dengar datang dari arah tersebut lalu sang Sultan
sendiri datang menghampiri mereka dan berkata bahwa
suara tersebut bukan berasal dari harimau sesungguhnya
melainkan dari Bende Pusaka Kyai Bercak yang dipukul dan
mengeluarkan bunyi seperti auman seekor harimau dan
menyatakan kepada orang banyak tersebut bahwa besok
jika tempat menjadi sebuah desa maka dinamakan Desa
Simo, dan setelah berkata demikian orang banyak itu lalu
pulang ke rumah masing-masing dan setelah peristiwa itu
masyarakat menamakan daerah itu Desa Simo.
Sawah dan ladang milik Kyai Singoprono subur dengan hasil
melimpah ruah, namun kesemuanya itu merupakan hasil
kerja keras dan doa yang senantiasa menghiasinya.
Suatu malam yang cerah, bulan dan bintang bersinar terang,
dengan membawa tombak saktinya, Kyai Singoprono pergi
ke sawah untuk melihat-lihat apakah tanamannya aman dari
gangguan hama dan binatang.
Dengan berhati-hati dan waspada Kyai Singoprono
mengelilingi sawahnya, dan Kyai Singoprono merasa
tentram, sebab tanamannya tak satupun yang rusak.
Namun hatinya gundah tak menentu tapi tidak mengetahui
sebabnya, sebentar-sebentar dilihatnya sawah didepannya
walaupun tidak terlihat sesuatu apapun kemudian duduk
kembali untuk waspada terhadap suara-suara yang
mencurigakan tetapi tak ada sesuatu peristiwa yang
menjawab kegundahan itu.
Setelah sementara waktu dari kejauhan sayup terdengar
suara gemuruh datang mendekat dan terus mendekat ke
arah Kyai Singoprono duduk, dan semakin lama terdengar
jelas banyak kaki-kaki binatang besar berlari mendekat.
Berdegup kencang jantung Kyai Singoprono mendengarnya.
Waspada dengan tombak sakti ditangan dan terjawab
kegundahan hatinya, dari arah depan datang segerombolan
babi rusa menghampiri sawahnya dan mereka berpesta
pora, makan dan merusak tanamannya. Kyai Singoprono
berfikir sejenak akan ditangkapnya babi rusa itu namun
karena banyak akhirnya diurungkan niat dan diteguhkan
hatinya untuk menyerang kawanan itu..
Kyai Singoprono mengendap-endap mendekati kawanan
babi rusa itu dan setelah mantap hatinya maka dibidikkanlah
tombak pusaka ditangan dan dilempar dan mengenai salah
satu babi rusa itu namun aneh bukannya roboh dan mati
tetapi terus berlari seperti tak terkena senjata tombak itu.
Oleh karena serangan yang tiba-tiba, kawanan babi rusa itu
terkejut dan tunggang langgang lari masuk kembali menuju
hutan.
Oleh karena tombak saktinya tertancap pada salah satu babi
rusa tersebut Kyai Singoprono terus mengejar berharap babi
rusa yang terkena tombaknya akan mati kehabisan tenaga.
Terus mengejar seakan ada kekuatan gaib merasuki diri
Kyai Singoprono sehingga mendapat kekuatan untuk berlari.
Setelah lama dikejar sampailah Kyai Singoprono ditengah
hutan dan sekoyong-koyong keadaan sekitar Kyai
Singoprono berubah menjadi alun-alun keraton dan
didepannya tampaklah istana keraton nan megah. Kyai
Singoprono merasa bahwa dirinya bermimpi dan dicubitnya
lengannya namun masih merasa sakit, Kyai Singoprono
berjalan mendekati istana tersebut lalu tampaklah prajurit
yang menjaga istana datang menghampirinya dengan
tergesa-gesa dan kemudian bertanya kepada prajurit
penjaga.
Penjaga tersebut bercerita bahwa puteri raja sedang sakit
keras dan telah diupayakan melalui berbagai cara dan
berbagai pengobatan namun tak kunjung sembuh dan Raja
telah membuat sayembara yang bunyinya barang siapa
yang bisa mengobati sakit sang puteri, bila laki-laki akan
dijadikan menantu dan apabila wanita akan dijadikan
saudara bagi puterinya. Mendengar cerita itu Kyai
Singoprono ingin mencoba mengobati penyakit sang puteri
raja. Setelah mendapatkan ijin Kyai Singoprono diantar
berjalan menuju ruang peristirahatan sang puteri, dan
setibanya disana terlihat keluarga raja sedang berduka dan
tak kuasa menahan tangis.
Dipersilahkan Kyai Singoprono mengobati sang puteri.
Setelah diraba dengan dibubuhi mantra Kyai Singoprono
menemukan pada pangkal paha sang puteri tertancap
tombak saktinya. Betapa terkejutnya Kyai Singoprono akan
hal itu namun disembunyikan perasaannya dan ia yakin
bahwa tombak saktinyalah yang menyebabkan sang puteri
sakit.
Benar adanya setelah tombak sakti tersebut dicabut dan
dimasukkan ke dalam kantong baju Kyai Singoprono secara
ajaib sebuhlah sang puteri dari sakitnya.
Sesuai dengan janji sang raja maka Kyai Singoprono
dijadikan menantu sang raja dan diadakan pesta yang
meriah dan entah kekuatan apa yang merasuki Kyai
Singoprono sehingga tidak ingat akan dirinya yang telah
memiliki isteri.
Hari demi hari berlalu dan mereka hidup rukun saling
mencintai dan tiba-tiba teringatlah Kyai Singoprono kepada
isterinya dan ingin pulang untuk menemui isteri yang telah
lama ia tinggalkan.
Maka Kyai Singoprono pamit untuk pergi mengembara untuk
waktu yang agak lama.
Setelah diijinkan berangkatlah Kyai Singoprono menuju ke
kampung halamannya, namun betapa terkejutnya setelah ia
bertemu orang-orang yang berteriak babi rusa dan
mengejarnya, begitulah seterusnya berulang kali sampai
suatu saat merasa lelah dan pulang kembali menuju
kerajaan sang puteri.
Kyai Singoprono berfikir sejenak dan memohon kepada
Tuhan agar diberikan petunjuk mengenai apa yang terjadi
pada dirinya.
Dan teringat pulalah pada pakaian yang ia kenakan pada
waktu mengejar babi rusa dan segera seperti mendapatkan
petunjuk saat itu juga dilepaskan pakaian barunya dan
dikenakannya kembali pakaian usangnya dan setelah itu ia
minta ijin lagi kepada isteri barunya untuk kembali pergi
meneruskan perjalanan, anehnya dalam perjalanannya Kyai
Singoprono tidak dikejar-kejar orang lagi dan tidak ada yang
meneraki babi rusa lagi.
Setelah berjalan seharian menjelang maghrib sampailah
Kyai Singoprono di tepi kampung halamannya dan beberapa
saat kemudian sampai di depan rumahnya namun terkejut
bukan kepalang karena sayup-sayup terdengar suara doa
yang dipanjatkan seperti bila ada orang yang mempunyai
hajat kenduri. Dengan perasaan yang kurang enak Kyai
Singoprono terus berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Begitu melihat Kyai Singoprono orang-orang yang tadinya
berdoa di dalam rumahnya berhamburan keluar dengan
wajah pucat pasi tak ada yang berani menatap Kyai
Singoprono dan perempuan-perempuan yang ada di dapur
tak ada yang bisa berlari karena kaki mereka seperti dipaku
ke tanah akibat melihat Kyai Singoprono. Segera Kyai
Singoprono menghampiri isterinya dan lama sekali mereka
berpandangan melepas rindu dan tanda tanya yang selama
ini menyelimuti kepergian Kyai Singoprono. Orang-orang
yang tadinya lari tunggang langgang pun memberanikan diri
kembali masuk ke dalam rumah dan ingin tahu kejadian apa
sebenarnya yang telah dialami oleh Kyai Singoprono. Ya,
kepergian Kyai Singoprono telah 3 tahun (1000 hari)
lamanya meninggalkan isterinya.
Semenjak saat itu menjadi tradisi bagi masyarakat sekitar
Simo dan Walen bahwa bila ada sanak keluarga yang hilang
setelah 3 tahun tidak pulang maka keluarga itu tidak
mengharapkan kembali atau dengan anggapan bahwa telah
meninggal dunia tetapi apabila kurang dari 3 tahun maka
keluarganya masih tetap mencari dan mengharapkan
kedatangan sanak keluarga yang hilang tersebut.
Kembali kepada Kyai Singoprono yang telah kembali kepada
kehidupan kesehariannya yang setelah mengalami kejadian
tersebut menjadi lebih tekun beribadah dan bertambah
taqwa kepada Yang Maha Kuasa. Cerita tentang Kyai
Singoprono yang telah menghilang selama 3 tahun tersebut
menjadi buah bibir tersebar sampai ke seluruh pelosok
negeri sampai ke Kerajaan Demak dan sang Sultan Demak
ingin bertemu dengan Kyai Singoprono dan ingin
mengetahui kesaktiannya apalagi saat itu Sultan memiliki
rencana untuk menaklukkan Raja Pengging. Akhirnya Sultan
Demak berangkat sendiri menyamar menjadi rakyat jelata
yang miskin dan dikawal pasukannya menuju kediaman Kyai
Singoprono di Desa Walen hal tersebut dilakukan agar Kyai
Singoprono tidak mengenal sang Sultan dengan pakaian
kebesarannya sebagai seorang raja. Setelah berjalan
berhari-hari sampailah Sultan Demak di sebuah desa yang
disitu tumbuh sebatang pohon duwet putih yang rindang dan
Sultan Demak ingin beristirahat barang sejenak dan
diperintahkannya beberapa prajuritnya untuk mencari
keterangan dimanakah rumah Kyai Singoprono, setelah
mendapatkan keterangan dari penduduk desa kembalilah
prajurit menemui sang Sultan dan meneruskan perjalanan
kembali menuju kediaman Kyai Singoprono. Sesampainya di
rumah Kyai Singoprono sang Sultan duduk di depan pintu
rumah sambil meminta sedekah. Saat itu Kyai Singoprono
sedang makan siang dan segera ditinggalkannya makanan
yang sedang disantapnya kemudian datang menghampiri
pengemis itu dan dipersilakan untuk masuk dan makan
bersamanya. Namun pengemis itu bertanya kepada Kyai
Singoprono mengapa seorang pengemis yang hina papa di
persilakan dan diperlakukan demikian? Jawab Kyai
Singoprono bahwa hal tersebut adalah tindakan yang biasa
dan harus dilakukan kepada siapapun juga tidak boleh
pandang bulu apalagi saya tahu bahwa anda bukan
pengemis dan anda adalah Sultan Demak yang sedang
menyamar menjadi seorang pengemis dan perlu
diperlakukan dengan hormat. Takjublah sang Sultan
mendengar hal tersebut dan mengambil kesimpulan bahwa
memang berita yang sang Sultan dengar selama ini
bukanlah isapan jempol semata, melainkan sebuah
kenyataan bahwa Kyai Singoprono adalah seorang yang arif
bijaksana baik dalam perkataan dan perbuatannya juga sakti
mandraguna, sampai-sampai sang Sultan terduduk di depan
Kyai Singoprono namun Kyai Singoprono menempatkan diri
sebagai rakyat biasa yang menghadap rajanya.
Kyai Singoprono dan sang Sultan terlibat dalam
pembicaraan yang panjang lebar dan disampaikan pula oleh
sang Sultan keinginannya untuk menaklukkan Kerajaan
Pengging dan telah disiapkan pasukan menuju ke Kerajaan
Pengging dan sekarang tengah beristirahat di sekitar pohon
duwet putih menunggu perintah sang Sultan, namun apa
yang menjadi keinginan sang Sultan tidak dikabulkan oleh
Kyai Singoprono dan apabila sang Sultan berperang akan
menemui kegagalan namun sang Sultan tetap pada
pendiriannya sehingga terus terjadi perdebatan diantara
mereka berdua. Setelah lama berdebat sang Sultan tetap
pada pendiriannya mengajukan syarat apabila Bende
pusaka Kyai Bercak yang tergantung dipohon duwet putih
tempat pasukan Kerajaan Demak dipukul dan mengeluarkan
bunyi keras maka Kyai Singoprono akan setuju tetapi
kebalikannya apabila bende pusaka yang tergantung
dipohon duwet putih tempat pasukan Kerajaan Demak
dipukul dan mengeluarkan bunyi tidak keras maka dia tidak
setuju dengan apa kehendak sang Sultan dan memohon
sang Sultan untuk kembali ke Kerajaan Demak beserta
pasukannya. Menanggapi perkataan Kyai Singoprono sang
Sultan pergi meninggalkan Kyai Singoprono menuju pohon
duwet putih (sekarang masih hidup dan terletak di sebelah
barat Kantor Kecamatan Simo, Boyolali) kemudian
memerintahkan kepada salah seorang prajuritnya untuk
memukul Bende Pusaka Kyai Bercak dan ternyata setelah
dipukul mengeluarkan bunyi hanya seperti harimau yang
mengaum. Suara itu terdengar sampai jauh dan
mengundang perhatian banyak orang karena memang di
daerah tersebut sering terdapat gangguan harimau.
Orang-orang di daerah itu lalu menuju arah dimana
datangnya suara tadi untuk mengejar harimau tersebut dan
sampailah orang banyak tersebut di tempat dimana pasukan
sang Sultan berhenti tepatnya dipohon duwet putih tempat
Bende pusaka Kyai Bercak dikaitkan diatasnya.
Berkatalah orang banyak tersebut tentang suara yang
mereka dengar datang dari arah tersebut lalu sang Sultan
sendiri datang menghampiri mereka dan berkata bahwa
suara tersebut bukan berasal dari harimau sesungguhnya
melainkan dari Bende Pusaka Kyai Bercak yang dipukul dan
mengeluarkan bunyi seperti auman seekor harimau dan
menyatakan kepada orang banyak tersebut bahwa besok
jika tempat menjadi sebuah desa maka dinamakan Desa
Simo, dan setelah berkata demikian orang banyak itu lalu
pulang ke rumah masing-masing dan setelah peristiwa itu
masyarakat menamakan daerah itu Desa Simo.
Tari Damai
Senin, 30 September 2013
Motif Glugu Seni Boyolali
BATIK GLUGU
Batik ini merupakan salah satu hasil karya yang dubawa oleh Duta Seni Dan Misi Budaya Kabupaten Boyolali 2013 ke Eropa. disana batik ini sempat dipakai para Peserta saat Upacara HUT NKRI di Kedutaan. sempat seorang warga negara sana menanyakan tentang Batik Indonesia dan Batik Glugu Aseli Boyolali tetap disebut sebagai warisan seni Boyolali.
Bermotif serat pohon kelapa, kerajinan batik glugu kini telah berhasil menambah kekayaan motif batik di Boyolali dengan cirri khasnya yang unik. Bahkan, masyarakat luas dapat menerima kemunculan batik glugu sebagai motif baru dalam tradisi seni kerajinan batik. Sejumlah instansi pemerintah dan perusahaan swasta serta perorangan telah menggunakan batik glugu sebagai seragam batik resmi.
Batik ini merupakan salah satu hasil karya yang dubawa oleh Duta Seni Dan Misi Budaya Kabupaten Boyolali 2013 ke Eropa. disana batik ini sempat dipakai para Peserta saat Upacara HUT NKRI di Kedutaan. sempat seorang warga negara sana menanyakan tentang Batik Indonesia dan Batik Glugu Aseli Boyolali tetap disebut sebagai warisan seni Boyolali.
Bermotif serat pohon kelapa, kerajinan batik glugu kini telah berhasil menambah kekayaan motif batik di Boyolali dengan cirri khasnya yang unik. Bahkan, masyarakat luas dapat menerima kemunculan batik glugu sebagai motif baru dalam tradisi seni kerajinan batik. Sejumlah instansi pemerintah dan perusahaan swasta serta perorangan telah menggunakan batik glugu sebagai seragam batik resmi.
Tidak hanya di lingkungan Pemkab
Boyolali saja, tetapi juga intansi lain seperti untuk seragam batik
Jateng Visit Year yang dikenakan PNS di propinsi Jateng. Bahkan batik
motif serat glugu ini telah menjangkau instansi pemerintah dan swasta
di Jakarta, Kalimantan, Jawa Barat dan Jawa Timur.
Batik glugu diprakarsai kemunculannya
oleh Muhammad Amin (43) warga Dukuh Godeg Desa Ngenden Kecamatan Ampel
Kabupaten Boyolali. Setelah muncul di pasaran, kini bahkan telah
dibuatkan hak paten atas namanya. Ide kreatifnya sebagai pencipta batik
glugu muncul saat dirinya menekuni perdagangan kayu glugu tahun 2009
lalu.
“Motif serat glugu ternyata sangat unik,
tiap kayu glugu memiliki motif yang selalu berbeda dengan glugu
lainnya. Jadi motif serat glugu ini jika dijadikan motif batik jumlahnya
akan mencapai jutaan motif,” kata Muhammad Amin yang juga direktur
Batik Glugu Abadi.
Menurutnya, sampai saat ini dari galeri
yang didirikan di pelosok dukuh Godeg Desa Ngenden Kecamatan Ampel
tersebut telah tercipta 3.800 motif batik glugu, termasuk beberapa motif
langka yang sudah tidak dapat diproduksi lagi karena sudah tidak
ditemukan motifnya lagi.
Sebagaimana motif batik lain, batik
glugu pun memiliki filosofi sebagai batik yang memberi kehidupan abadi
seperti pohon kelapa yang terus memberikan manfaat saat hidup. Kayu
glugunya pun masih sangat bermanfaat, bahkan motif seratnya sangat indah
dan beragam hingga sepertinya pohon kelapa itu secara alami telah
membatik sendiri dengan motif serat glugunya yang unik dan tiada habis
sepanjang massa.
Terselip Ditengah Kota
Rumah Arca Kridanggo
Taman kota Sono Kridanggo - Boyolali
Sejarah :
Kalau dilihat dari luar taman yang tidak begitu menarik ternyata menyimpan berjuta keragaman Boyolali.
Rumah arca Kridanggo merupakan penampungan benda-benda purbakala yang
diketemukan di wilayah boyolali. Penemuan situs purbakala tersebar dari
kecamatan selo, cepogo, ampel dan musuk. Rumah arca yang digunakan sejak
awal tahun 1990 itu berukuran 12 meter kali 12 meter.
![]() |
| Rumah arca kridanggo boyolali |
Ruang yang sempit dan koleksi yang banyak ini menyebabkan pengunjung
yang hendak melihat-lihat peninggalan dari masa Hindu dan Buddha pada
abad ke-8 hingga abad ke-10 itu tak nyaman. Nyaris tak tersedia ruang
gerak memadai di antara deretan arca batu yang ditemukan di berbagai
pelosok Boyolali itu.
Koleksi rumah arca sebagian besar berupa lembu nandi, serta yoni yang merupakan lambang kesuburan wanita. Selain itu, ada pula relief arca berwujud Siwa guru yang bertubuh tambun dan berjanggut serta Siwa Mahadewa. Selain itu, ada pula patung Durga, perempuan bertangan delapan yang menginjak banteng, serta Ganesha dan Wisnu yang menaiki garuda.
Koleksi rumah arca sebagian besar berupa lembu nandi, serta yoni yang merupakan lambang kesuburan wanita. Selain itu, ada pula relief arca berwujud Siwa guru yang bertubuh tambun dan berjanggut serta Siwa Mahadewa. Selain itu, ada pula patung Durga, perempuan bertangan delapan yang menginjak banteng, serta Ganesha dan Wisnu yang menaiki garuda.
![]() |
| Koleksi arca di museum kridanggo |
![]() |
| Yoni & arca nandi |
![]() |
| Arca Durga |
![]() |
| Antefiks & fragmen arca |
![]() |
| Arca nandi |
Di luar rumah arca juga terdapat patung Ganesa setinggi 1,5 meter dan
yoni yang tingginya sekitar 1 meter yang diketemukan di kecamatan
musuk.
![]() |
| Arca Ganesha & Yoni yg ditemukan di kec.musuk |
TAYUB APITAN MILIK JUWANGI
APITAN
Baru kemarin Kecamatan Juwangi, kabupaten Boyolali mengadakan Upacara ritual Apitan. Seperti Upacara ritual sebelumnya Juwangi masih melestarikan budaya ritual Apitannya dengan Tari Tayub.Tari Tayub merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional yang masih digunakan dalam upacara ritual Apitan. Tari Tayub ditarikan 5 orang penari putra 2 orang penari putri. Pertunjukan Tari Tayub dalam upacara ritual Apitan dilakukan secara rutin pada akhir panen. Tujuannya agar kesuburan, keselamatan Desa Juwangi dikabulkan oleh Yang Kuasa. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah fungsi dan makna simbolis Tari Tayub dalam Upacara Ritual Apitan di Desa Juwangi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fungsi dan makna simbolis Tari Tayub dalam Upacara Ritual Apitan di Desa Juwangi. Tujuan penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah informasi mengenai fungsi dan makna simbolis Tari Tayub dalam Upacara Ritual Apitan di Desa Juwangi bagi masyarakat umum. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian di Desa Juwangi Kecamatan Juwangi Kabupaten Boyolali. Sasaran penelitian dalam Tari Tayub yaitu fungsi dan makna simbolis Tari Tayub dalam Upacara Ritual Apitan di Desa Juwangi. Sumber data dari teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan meredukasi data, menyajikan data selanjutnya dilakukan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa Tari Tayub memiliki 2 fungsi yaitu sebagai sarana ritual dalam Upacara Ritual Apitan di Desa Juwangi dan sebagai sarana hiburan pribadi baik pelaku maupun penikmat. Makna simbolis yang terkandung pada Tari Tayub adalah dalam meraih cita-cita kita, hendaknya kita dapat mengendalikan hawa nafsu yang ada pada diri kita dengan cara bermusyawarah dengan sesama, bersilaturahmi dan berkesenian. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menyarankan kepada pihak-pihak terkait supaya Tari Tayub terus dikembangkan dan dilestarikan agar tidak punah dengan cara melalui diadakan lomba dalam momen yang tepat, sehingga tetap dikenal dalam masyarakat umum.
Boyolali Seh Wetan
Pengging
Legenda Pengging,
Pengging adalah sebuah desa yang terletak di Kelurahan Dukuh, Kecamatan
Banyudono, Kabupaten Boyolali, tapi sekarang Pengging lebih dikenal
oleh masyarakat mencakup 3 Kelurahan yaitu Bendan, Dukuh dan Jembungan.
Dengan peninggalan yang tersisa adalah Pemandian Umbul Pengging ,Umbul
Sungsang dan Makam Pujangga Yosodipuro.
Pengging
juga mempunyai ritual sebaran apem untuk memperingati bulan Sapar,
tradisi ini sudah ada sejak jaman R. Ng Yosodipuro. Hal ini dimulai
karena pengaruh R. Ng Yosodipura yang berjasa dalam membawa rakyat
Pengging dalam meningkatkan hasil pertanian dan mengusir hama. Acara ini
sering bertepatan dengan acara Pengging Fair yaitu pesta rakyat dan
budaza Pengging yang dilaksanakan mendekati bulan Agustus. Acara ini
berlangsung selama seminggu dengan puncak acaranya adalah hari terakhir
perayaan ini. Namun beberapa hari sebelumnya di sepanjang jalan Pengging
sudah ramai dengan pedagang-pedagang, mulai penjual makanan sampai
pakaian tidak hanya pedagang lokal tapi juga dari luar daerah. Acara
tersebut tidak hanya diikuti oleh masyarakat Pengging dan sekitarnya
tapi juga dikunjungi oleh masyarakat luar Pengging misalnya dari
Boyolali, Surakarta, Klaten bahkan luar karisidenan Surakarta.
Pesta
rakyat dan budaya Pengging merupakan acara memperingati HUT Kemerdekaan
Republik Indonesia namun karena suatu hal maka sering dilaksanakan
sebagai pesta budaya sekaligus memperingati jasa R Ng Yosodipuro dalam
bentuk ritual atau upacara tradisi apeman, acara ini mulai
diselenggarakan tahun 1967 dan diadakan secara rutin setiap tahun. Pada
awalnya dilangsungkan dengan sederhana dan hanya menampilkan satu
panggung hiburan. Seiring bertambahnya waktu acara tradisi ini berjalan
semakin maju dan semarak dengan berbagai jenis kegiatan dan hiburan.
Dengan demikian pengunjung yang datang semakin bertambah banyak dan
Pegging menjadi terkenal dengan Obyek Wisata Pemandian Umbul Pengging
dan Makam Pujangga Yosodipuro saja namun juga dengan kegiatan tradisi
tahunan tersebut.
R.
Ng Yosodipuro ádalah seorang Pujangga sekaligus ulama yang menyebarkan
agama Islam hidup pada masa pemerintahan Pakubuwono II dikenal sangat
dekat dengan kaum petani, karena kearifannya seringkali rakyat Pengging
memohon petunjuk termasuk pada saat petani meminta bantuannya untuk
mengatasi serangan hama keong mas. Atas petunjuk R. Ng Yosodipuro para
petani mengambil keong mas tersebut kemudian dimasak dengan cara
dikukus. Sebelumnya keong tersebut dibalut dengan janus yang dibentuk
seperti keong mas. Setiap kali panen padi janur bekas balutan keong mas
tersbut digunakan untuk membuat apem kukus. Apem kukus itu kemudian
dibagi-bagikan pada petani sebagi wujud syukur kepada Tuhan atas hasil
panen yang diberikan dan juga berkurangnya hama keong. Tradisi bagi-bagi
apem akhirnya terus berkembang hingga berjalan sampai sekarang. Bagi
masyarakat yang percaya jika berhasil mendapatkan apem maka diyakini
akan mendatangkan berkat.
Berebut
kue apem kukus keong mas dalam acara Saparan di Pengging, kecamata
Banyudono, Boyolali sudah merupakan tradisi yang tak mudah untuk
ditinggalkan oleh masyarakatnya. Masing-masing RT mengirimkan apem
sebanyak 200 buah kemudian dikumpulkan di kantor kecamatan. Acra Saparan
dilaksanakan tepat di perempatan depan Masjid Cipto Mulyo, kompleks
wisata Umbul Pengging. Malam sebelumnya diadakan prosesi melakukan doa
dan tahlil di Masjid Cipto Mulyo dan dilanjutkan ziarah di makam R. Ng
Yosodipuro kemudian dilanjutkan dengan upacar kenduri serta Sanggaran.
Selanjutnya
ritual diawali dengan kirab budaya dan arak-arakan dua buah gunungan
apem serta berbagi macam kesenian daerah setempat. Dimulai di depan
kantor kecamatan Banyudono menuju halaman Masjid Cipto Mulyo. Acara ini
dihadari oleh pejabat daerah setempat, trah dari R. Ng Yosodipuro serta
kerabat Keraton Surakarta Hadiningrat.
1. Acara-acara untuk memeriahkan tradisi ini antara lain:
- Pentas
seni dan budaya, yang diadakan disepanjang Jalan Pasar Pengging, acara
dimulai dengan pemotongan pita oleh Bupati Boyolali. Kemudian acara
karnaval oleh murid TK dan SD , drum band, Reog dan Barongsai.
Iring-iringan ini dimulai dari kantor kecamatan Banyudono sampai di
depan Obyek Wisata Umbul Pengging. Malamnya dilanjutkan dengan hiburan
kesenian, terdapat lima panggung kesenian yaitu: panggung band rock,
anak-anak, orkes melayu (dangdut), campursari, dan Wayang kulit dengan lokasi yang sudah dipersiapkan
- Suasana meriah dan ramai dirasakan sejak sore hari, berlanjut hingga tengah malam apalagi pertunjukan wayang kulit yang berlangsung semalam suntuk. Dapat
terlihat disini semua jenis kesenian baik modern maupun tradisional
dapat berjalan bersama. Sehingga secara tidak langsung acara ini juga
dijadikan sebagai sarana promosi dan melestarikan kebudayaan daerah.
Pertunjukan wayang kulit dimainkan oleh dalang dari Pengging sendiri
karena Pengging mempunyai banyak dalang misalnya : Ki Wardono, Ki Gondo
Sawi, Ki Gondo Tomo, Ki Gondo Wajiran, Ki Sabdo Carito, dalang muda Ki
Nyoman dan kadang kadang mengundang dalang terkenal seperti Ki Anom
Suroto dan Warseno Slank diiringi waranggana lokal misalnya Nyimut,
Suparsih, Wayan, Suji diselingi lawak Gogon yang asli Pengging dan
bahkan pelawak Srimulat turut serta menyemarakkan acara ini. Hal ini
mendorong lahirnya seniman - seniman muda dari Pengging selain itu
sanggar karawitan dan tari tradisioanal dibuka di Pengging.
- Diharapkan
dengan diadakannya acara ini mendorong semangat generasi muda untuk
mencintai dan melestarikan kebudayaan serta memajukan daerahnya tidak
hanya melalui kekayaan alam namun juga dengan kesenian, kebudayan dan
peninggalan sejarah
Langganan:
Postingan (Atom)







