Minggu, 06 Oktober 2013
Tari Damai
Senin, 30 September 2013
Motif Glugu Seni Boyolali
BATIK GLUGU
Batik ini merupakan salah satu hasil karya yang dubawa oleh Duta Seni Dan Misi Budaya Kabupaten Boyolali 2013 ke Eropa. disana batik ini sempat dipakai para Peserta saat Upacara HUT NKRI di Kedutaan. sempat seorang warga negara sana menanyakan tentang Batik Indonesia dan Batik Glugu Aseli Boyolali tetap disebut sebagai warisan seni Boyolali.
Bermotif serat pohon kelapa, kerajinan batik glugu kini telah berhasil menambah kekayaan motif batik di Boyolali dengan cirri khasnya yang unik. Bahkan, masyarakat luas dapat menerima kemunculan batik glugu sebagai motif baru dalam tradisi seni kerajinan batik. Sejumlah instansi pemerintah dan perusahaan swasta serta perorangan telah menggunakan batik glugu sebagai seragam batik resmi.
Batik ini merupakan salah satu hasil karya yang dubawa oleh Duta Seni Dan Misi Budaya Kabupaten Boyolali 2013 ke Eropa. disana batik ini sempat dipakai para Peserta saat Upacara HUT NKRI di Kedutaan. sempat seorang warga negara sana menanyakan tentang Batik Indonesia dan Batik Glugu Aseli Boyolali tetap disebut sebagai warisan seni Boyolali.
Bermotif serat pohon kelapa, kerajinan batik glugu kini telah berhasil menambah kekayaan motif batik di Boyolali dengan cirri khasnya yang unik. Bahkan, masyarakat luas dapat menerima kemunculan batik glugu sebagai motif baru dalam tradisi seni kerajinan batik. Sejumlah instansi pemerintah dan perusahaan swasta serta perorangan telah menggunakan batik glugu sebagai seragam batik resmi.
Tidak hanya di lingkungan Pemkab
Boyolali saja, tetapi juga intansi lain seperti untuk seragam batik
Jateng Visit Year yang dikenakan PNS di propinsi Jateng. Bahkan batik
motif serat glugu ini telah menjangkau instansi pemerintah dan swasta
di Jakarta, Kalimantan, Jawa Barat dan Jawa Timur.
Batik glugu diprakarsai kemunculannya
oleh Muhammad Amin (43) warga Dukuh Godeg Desa Ngenden Kecamatan Ampel
Kabupaten Boyolali. Setelah muncul di pasaran, kini bahkan telah
dibuatkan hak paten atas namanya. Ide kreatifnya sebagai pencipta batik
glugu muncul saat dirinya menekuni perdagangan kayu glugu tahun 2009
lalu.
“Motif serat glugu ternyata sangat unik,
tiap kayu glugu memiliki motif yang selalu berbeda dengan glugu
lainnya. Jadi motif serat glugu ini jika dijadikan motif batik jumlahnya
akan mencapai jutaan motif,” kata Muhammad Amin yang juga direktur
Batik Glugu Abadi.
Menurutnya, sampai saat ini dari galeri
yang didirikan di pelosok dukuh Godeg Desa Ngenden Kecamatan Ampel
tersebut telah tercipta 3.800 motif batik glugu, termasuk beberapa motif
langka yang sudah tidak dapat diproduksi lagi karena sudah tidak
ditemukan motifnya lagi.
Sebagaimana motif batik lain, batik
glugu pun memiliki filosofi sebagai batik yang memberi kehidupan abadi
seperti pohon kelapa yang terus memberikan manfaat saat hidup. Kayu
glugunya pun masih sangat bermanfaat, bahkan motif seratnya sangat indah
dan beragam hingga sepertinya pohon kelapa itu secara alami telah
membatik sendiri dengan motif serat glugunya yang unik dan tiada habis
sepanjang massa.
Terselip Ditengah Kota
Rumah Arca Kridanggo
Taman kota Sono Kridanggo - Boyolali
Sejarah :
Kalau dilihat dari luar taman yang tidak begitu menarik ternyata menyimpan berjuta keragaman Boyolali.
Rumah arca Kridanggo merupakan penampungan benda-benda purbakala yang
diketemukan di wilayah boyolali. Penemuan situs purbakala tersebar dari
kecamatan selo, cepogo, ampel dan musuk. Rumah arca yang digunakan sejak
awal tahun 1990 itu berukuran 12 meter kali 12 meter.
![]() |
| Rumah arca kridanggo boyolali |
Ruang yang sempit dan koleksi yang banyak ini menyebabkan pengunjung
yang hendak melihat-lihat peninggalan dari masa Hindu dan Buddha pada
abad ke-8 hingga abad ke-10 itu tak nyaman. Nyaris tak tersedia ruang
gerak memadai di antara deretan arca batu yang ditemukan di berbagai
pelosok Boyolali itu.
Koleksi rumah arca sebagian besar berupa lembu nandi, serta yoni yang merupakan lambang kesuburan wanita. Selain itu, ada pula relief arca berwujud Siwa guru yang bertubuh tambun dan berjanggut serta Siwa Mahadewa. Selain itu, ada pula patung Durga, perempuan bertangan delapan yang menginjak banteng, serta Ganesha dan Wisnu yang menaiki garuda.
Koleksi rumah arca sebagian besar berupa lembu nandi, serta yoni yang merupakan lambang kesuburan wanita. Selain itu, ada pula relief arca berwujud Siwa guru yang bertubuh tambun dan berjanggut serta Siwa Mahadewa. Selain itu, ada pula patung Durga, perempuan bertangan delapan yang menginjak banteng, serta Ganesha dan Wisnu yang menaiki garuda.
![]() |
| Koleksi arca di museum kridanggo |
![]() |
| Yoni & arca nandi |
![]() |
| Arca Durga |
![]() |
| Antefiks & fragmen arca |
![]() |
| Arca nandi |
Di luar rumah arca juga terdapat patung Ganesa setinggi 1,5 meter dan
yoni yang tingginya sekitar 1 meter yang diketemukan di kecamatan
musuk.
![]() |
| Arca Ganesha & Yoni yg ditemukan di kec.musuk |
TAYUB APITAN MILIK JUWANGI
APITAN
Baru kemarin Kecamatan Juwangi, kabupaten Boyolali mengadakan Upacara ritual Apitan. Seperti Upacara ritual sebelumnya Juwangi masih melestarikan budaya ritual Apitannya dengan Tari Tayub.Tari Tayub merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional yang masih digunakan dalam upacara ritual Apitan. Tari Tayub ditarikan 5 orang penari putra 2 orang penari putri. Pertunjukan Tari Tayub dalam upacara ritual Apitan dilakukan secara rutin pada akhir panen. Tujuannya agar kesuburan, keselamatan Desa Juwangi dikabulkan oleh Yang Kuasa. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah fungsi dan makna simbolis Tari Tayub dalam Upacara Ritual Apitan di Desa Juwangi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fungsi dan makna simbolis Tari Tayub dalam Upacara Ritual Apitan di Desa Juwangi. Tujuan penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah informasi mengenai fungsi dan makna simbolis Tari Tayub dalam Upacara Ritual Apitan di Desa Juwangi bagi masyarakat umum. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian di Desa Juwangi Kecamatan Juwangi Kabupaten Boyolali. Sasaran penelitian dalam Tari Tayub yaitu fungsi dan makna simbolis Tari Tayub dalam Upacara Ritual Apitan di Desa Juwangi. Sumber data dari teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan meredukasi data, menyajikan data selanjutnya dilakukan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa Tari Tayub memiliki 2 fungsi yaitu sebagai sarana ritual dalam Upacara Ritual Apitan di Desa Juwangi dan sebagai sarana hiburan pribadi baik pelaku maupun penikmat. Makna simbolis yang terkandung pada Tari Tayub adalah dalam meraih cita-cita kita, hendaknya kita dapat mengendalikan hawa nafsu yang ada pada diri kita dengan cara bermusyawarah dengan sesama, bersilaturahmi dan berkesenian. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menyarankan kepada pihak-pihak terkait supaya Tari Tayub terus dikembangkan dan dilestarikan agar tidak punah dengan cara melalui diadakan lomba dalam momen yang tepat, sehingga tetap dikenal dalam masyarakat umum.
Boyolali Seh Wetan
Pengging
Legenda Pengging,
Pengging adalah sebuah desa yang terletak di Kelurahan Dukuh, Kecamatan
Banyudono, Kabupaten Boyolali, tapi sekarang Pengging lebih dikenal
oleh masyarakat mencakup 3 Kelurahan yaitu Bendan, Dukuh dan Jembungan.
Dengan peninggalan yang tersisa adalah Pemandian Umbul Pengging ,Umbul
Sungsang dan Makam Pujangga Yosodipuro.
Pengging
juga mempunyai ritual sebaran apem untuk memperingati bulan Sapar,
tradisi ini sudah ada sejak jaman R. Ng Yosodipuro. Hal ini dimulai
karena pengaruh R. Ng Yosodipura yang berjasa dalam membawa rakyat
Pengging dalam meningkatkan hasil pertanian dan mengusir hama. Acara ini
sering bertepatan dengan acara Pengging Fair yaitu pesta rakyat dan
budaza Pengging yang dilaksanakan mendekati bulan Agustus. Acara ini
berlangsung selama seminggu dengan puncak acaranya adalah hari terakhir
perayaan ini. Namun beberapa hari sebelumnya di sepanjang jalan Pengging
sudah ramai dengan pedagang-pedagang, mulai penjual makanan sampai
pakaian tidak hanya pedagang lokal tapi juga dari luar daerah. Acara
tersebut tidak hanya diikuti oleh masyarakat Pengging dan sekitarnya
tapi juga dikunjungi oleh masyarakat luar Pengging misalnya dari
Boyolali, Surakarta, Klaten bahkan luar karisidenan Surakarta.
Pesta
rakyat dan budaya Pengging merupakan acara memperingati HUT Kemerdekaan
Republik Indonesia namun karena suatu hal maka sering dilaksanakan
sebagai pesta budaya sekaligus memperingati jasa R Ng Yosodipuro dalam
bentuk ritual atau upacara tradisi apeman, acara ini mulai
diselenggarakan tahun 1967 dan diadakan secara rutin setiap tahun. Pada
awalnya dilangsungkan dengan sederhana dan hanya menampilkan satu
panggung hiburan. Seiring bertambahnya waktu acara tradisi ini berjalan
semakin maju dan semarak dengan berbagai jenis kegiatan dan hiburan.
Dengan demikian pengunjung yang datang semakin bertambah banyak dan
Pegging menjadi terkenal dengan Obyek Wisata Pemandian Umbul Pengging
dan Makam Pujangga Yosodipuro saja namun juga dengan kegiatan tradisi
tahunan tersebut.
R.
Ng Yosodipuro ádalah seorang Pujangga sekaligus ulama yang menyebarkan
agama Islam hidup pada masa pemerintahan Pakubuwono II dikenal sangat
dekat dengan kaum petani, karena kearifannya seringkali rakyat Pengging
memohon petunjuk termasuk pada saat petani meminta bantuannya untuk
mengatasi serangan hama keong mas. Atas petunjuk R. Ng Yosodipuro para
petani mengambil keong mas tersebut kemudian dimasak dengan cara
dikukus. Sebelumnya keong tersebut dibalut dengan janus yang dibentuk
seperti keong mas. Setiap kali panen padi janur bekas balutan keong mas
tersbut digunakan untuk membuat apem kukus. Apem kukus itu kemudian
dibagi-bagikan pada petani sebagi wujud syukur kepada Tuhan atas hasil
panen yang diberikan dan juga berkurangnya hama keong. Tradisi bagi-bagi
apem akhirnya terus berkembang hingga berjalan sampai sekarang. Bagi
masyarakat yang percaya jika berhasil mendapatkan apem maka diyakini
akan mendatangkan berkat.
Berebut
kue apem kukus keong mas dalam acara Saparan di Pengging, kecamata
Banyudono, Boyolali sudah merupakan tradisi yang tak mudah untuk
ditinggalkan oleh masyarakatnya. Masing-masing RT mengirimkan apem
sebanyak 200 buah kemudian dikumpulkan di kantor kecamatan. Acra Saparan
dilaksanakan tepat di perempatan depan Masjid Cipto Mulyo, kompleks
wisata Umbul Pengging. Malam sebelumnya diadakan prosesi melakukan doa
dan tahlil di Masjid Cipto Mulyo dan dilanjutkan ziarah di makam R. Ng
Yosodipuro kemudian dilanjutkan dengan upacar kenduri serta Sanggaran.
Selanjutnya
ritual diawali dengan kirab budaya dan arak-arakan dua buah gunungan
apem serta berbagi macam kesenian daerah setempat. Dimulai di depan
kantor kecamatan Banyudono menuju halaman Masjid Cipto Mulyo. Acara ini
dihadari oleh pejabat daerah setempat, trah dari R. Ng Yosodipuro serta
kerabat Keraton Surakarta Hadiningrat.
1. Acara-acara untuk memeriahkan tradisi ini antara lain:
- Pentas
seni dan budaya, yang diadakan disepanjang Jalan Pasar Pengging, acara
dimulai dengan pemotongan pita oleh Bupati Boyolali. Kemudian acara
karnaval oleh murid TK dan SD , drum band, Reog dan Barongsai.
Iring-iringan ini dimulai dari kantor kecamatan Banyudono sampai di
depan Obyek Wisata Umbul Pengging. Malamnya dilanjutkan dengan hiburan
kesenian, terdapat lima panggung kesenian yaitu: panggung band rock,
anak-anak, orkes melayu (dangdut), campursari, dan Wayang kulit dengan lokasi yang sudah dipersiapkan
- Suasana meriah dan ramai dirasakan sejak sore hari, berlanjut hingga tengah malam apalagi pertunjukan wayang kulit yang berlangsung semalam suntuk. Dapat
terlihat disini semua jenis kesenian baik modern maupun tradisional
dapat berjalan bersama. Sehingga secara tidak langsung acara ini juga
dijadikan sebagai sarana promosi dan melestarikan kebudayaan daerah.
Pertunjukan wayang kulit dimainkan oleh dalang dari Pengging sendiri
karena Pengging mempunyai banyak dalang misalnya : Ki Wardono, Ki Gondo
Sawi, Ki Gondo Tomo, Ki Gondo Wajiran, Ki Sabdo Carito, dalang muda Ki
Nyoman dan kadang kadang mengundang dalang terkenal seperti Ki Anom
Suroto dan Warseno Slank diiringi waranggana lokal misalnya Nyimut,
Suparsih, Wayan, Suji diselingi lawak Gogon yang asli Pengging dan
bahkan pelawak Srimulat turut serta menyemarakkan acara ini. Hal ini
mendorong lahirnya seniman - seniman muda dari Pengging selain itu
sanggar karawitan dan tari tradisioanal dibuka di Pengging.
- Diharapkan
dengan diadakannya acara ini mendorong semangat generasi muda untuk
mencintai dan melestarikan kebudayaan serta memajukan daerahnya tidak
hanya melalui kekayaan alam namun juga dengan kesenian, kebudayan dan
peninggalan sejarah
Senin, 16 September 2013
Topeng Ireng warisan asli Boyolali
Mendengar kata Topeng Ireng tentu tak lupa dengan kota kecil Boyolali, tarian ini sempat dibawa para siswa siswi sebagai Duta Seni dan Misi Budaya ke Eropa untuk diperkenalkan kepada masyarakat sana. antusias warga Eropa dengan tarian ini membuat penari merasa bangga dengan tarian ini dan melestarikannya.
Mendengar kata Topeng Ireng tentu tak lupa dengan kota kecil Boyolali, tarian ini sempat dibawa para siswa siswi sebagai Duta Seni dan Misi Budaya ke Eropa untuk diperkenalkan kepada masyarakat sana. antusias warga Eropa dengan tarian ini membuat penari merasa bangga dengan tarian ini dan melestarikannya.
Topeng Ireng adalah satu bentuk tradisi seni pertujukan yang berasimilasi dengan budaya lokal Jawa Tengah. Topeng Ireng yang juga dikenal sebagai kesenian Dayakan ini adalah bentuk tarian rakyat kreasi baru yang merupakan hasil metamorfosis dari kesenian Kubro Siswo.
Berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat, kesenian Topeng Ireng mulai berkembang di tengah masyarakat lereng Merapi Merbabu sejak zamanpenjajahan Belanda dan dilanjutkan perkembangannya tahun 1960-an Pada saat jaman Pemerintahan Belanda, pemerintah jajahan pada masa lalu melarang masyarakat berlatih silat sehingga warga mengembangkan berbagai gerakan silat itu menjadi tarian rakyat. Tarian itu diiringi dengan musik gamelan dan tembang Jawa yang intinya menyangkut berbagai nasihat tentang kebaikan hidup dan penyebaran agama Islam.
Setelah itu perkembangan Seni Pertunjukan Topeng Ireng berkembang apabila umat Islam membangun masjid atau mushola, sebelum mustaka (kubah) dipasang maka mustaka tersebut akan diarak keliling desa. Kirab tersebut akan diikuti seluruh masyarakat disekitar masjid dengan tarian yang diiringirebana dan syair puji-pujian. Dalam perjalanannya kesenian tersebut berkembang menjadi kesenian Topeng Ireng. Daya tarik utama yang dimiliki oleh kesenian Topeng Ireng tentu saja terletak pada kostum para penarinya. Hiasan bulu warna-warni serupa mahkota kepala suku Indian menghiasi kepala setiap penari. Senada dengan mahkota bulunya, riasan wajah para penari dan pakaian para penari juga seperti suku Indian. Berumbai-rumbai dan penuh dengan warna-warna ceria. Sedangkan kostum bagian bawah seperti pakaian suku Dayak, rok berumbai-rumbai. Untuk alas kaki biasanya mengenakan sepatu gladiator atau sepatu boot dengangelang kelintingan yang hampir 200 buah setiap pemainnya dan menimbulkan suara riuh gemerincing di tiap gerakannya.
Setiap pertunjukan Topeng Ireng akan riuh rendah diiringi berbagai bunyi-bunyian dan suara. Mulai dari suara hentakan kaki yang menimbulkan bunyi gemerincing berkepanjangan, suara teriakan para penari, suara musik yang mengiringi, hingga suara penyanyi dan para penonton. Musik yang biasa digunakan untuk mengiringi pertunjukan Topeng Ireng adalah alat musik sederhana seperti gamelan, kendang, terbang, bende, seruling, dan rebana. Alunan musik ritmis yang tercipta akan menyatu dengan gerak dan teriakan para penari sehingga pertunjukan Topeng Ireng terlihat atraktif, penuh dengan kedinamisan dan religiusitas. Biasanya penarinya terdiri dari 10 orang atau lebih[1] dan membentuk formasi persegi atau melingkar dengan gerak tari tubuh yang tidak terlalu kompleks. Para penari juga terlihat sangat ekspresif dalam membawakan tariannya[5].
Tarian Topeng Ireng sebenarnya mudah untuk dipelajari karena gerakannya yang sederhana. Tidak ada gerak tubuh yang rumit, karena yang menjadi poin utama dari tarian ini adalah kekompakan. Semakin banyak penari yang turut serta, maka semakin indah kolaborasi yang tercipta. Berhubung Topeng Ireng diciptakan sebagai kolaborasi antara syiar agama Islam dan ilmu pencak silat, tarian para penarinya juga berasal dari gerakan-gerakan pencak silat yang telah dimodifikasi sedemikian rupa.
Satu lagi yang menjadi keistimewaan tarian Topeng Ireng dibandingkan kesenian rakyat lainnya adalah gerakannya yang tidak monoton. Dari waktu ke waktu inovasi baru selalu dilakukan dalam tiap pertunjukan Topeng Ireng. Pengembangan unsur-unsur artistikdan koreografi dilakukan supaya penontonnya tidak mengalami kebosanan sekaligus untuk menarik minat kaum muda agar mau bergabung menjadi anggota kelompok Topeng Ireng.
Pertunjukan Topeng Ireng sendiri terbagi menjadi dua jenis tarian. Yang pertama adalah Rodat yang berarti dua kalimat syahadat. Tarian ini ditampilan dengan gerakan pencak silat sederhana serta diiringi lagu-lagu syiar Islami. Jenis tarian lainnya adalah Monolanyang melibatkan penari dengan kostum hewan. Tarian ini melibatkan unsur mistik serta gerak pencak silat tingkat tinggi. Durasipertunjukan Topeng Ireng sangat fleksibel, tidak ada peraturan khusus mengenai lamanya tarian. Penampilan para penari bisa dibuat 15 menit, 10 menit, bahkan 5 menit saja.
Sebagai seni pertunjukan rakyat, pertunjukan Topeng Ireng biasanya dilaksanakan ketika sedang ada acara tertentu semisal upacara bersih desa, kirab budaya, festival rakyat, maupun acara-acara seni tradisi dan budaya lainnya. Tempat dilangsungkannya pertunjukan ini tidak menentu. Namun, daerah yang paling banyak menampilkan pertunjukan Topeng Ireng adalah desa-desa yang terletak di lereng Merapi Merbabu, Jawa Tengah dan hingga saat ini kesenian Dayakan ini telah berkembang di Kebumen, Jawa Tengah.
Maknyus
Wisata Kuliner
Maknyus Boyolali, Mantab Boyolali, Pancen Seger.
banyak sekali kuliner yang dapat kita temukan di Boyolali. yang tentunya enek, mantap, maknyus dan sueger. Boyolali pancen gudange kuliner jawa.
Maknyus Boyolali, Mantab Boyolali, Pancen Seger.
banyak sekali kuliner yang dapat kita temukan di Boyolali. yang tentunya enek, mantap, maknyus dan sueger. Boyolali pancen gudange kuliner jawa.
· Susu Segar
Minuman satu ini jangan sampai
terlupakan ketika berada di Boyolali. Terdapat banyak warung dan
"wedangan hik" yang menyediakan susu segar, dan tidak hanya itu, susu jadi
menu wajib di tempat-tempat favorit jajan dan restoran di Boyolali,
misalkan di Roti Bakar Amazon, RM. Elang Sari, dll. Selain susu segar,
walau tidak di setiap tempat, suguhan produk turunannya pun mulai bisa
diperoleh di Boyolali, misalkan yoghurt dan keju Boyolali.
· Marning
Marning merupakan makahan
tradisional yang terbuat dari jagung yang digoreng. Rasa yang ditawarkan
adalah manis, pedas, presto, gepuk, dan lain-lain. Permintaan yang
paling banyak terjadi menjelang lebaran sebagai suguhan di rumah maupun
oleh-oleh mudik. Pusat pembuatan Marning terdapat di Desa Kiringan,
Winong, Kebonbimo & Banaran (kecamatan Boyolali) dan Desa Metuk, Kragilan (Kecamatan Mojosongo).
· Jadah Selo
Jadah adalah makanan tradisional
yang mudah ditemukan di mana saja. Makanan ini terbuat dari ketan dan
kelapa. Jadah Selo merupakan makanan khas daerah di Boyolali,
tepatnya di kawasan Selo. Namun makanan ini baru terkenal sejak adanya
jalur wisata Solo-Selo-Borobudur.Pembelinya tidak hanya kalangan petani
saja, namun juga wisatawan yang melewati kawasan ini.
Jadah ini bisa dinikmati dengan
cara dibakar maupun tidak. Dengan udara pegunungan yang sejuk, jadah
lebih pas dipadukan dengan tempe atau tahu bacem.
· Pasar Simo
Pasar Simo mempunyai ragam dagangan khususnya makanan yang khas. Dari gudangan (urap) daun adas yang hanya tumbuh di Selo Boyolali,
kupat tahu dengan bakmi glepung singkong - lomboknya digerus pake
sendok, gule kambing dengan acar bawang merah utuhan, bergedel singkong
(ketemu rasa sama di RM ayam goreng Ciganea Jabar), mentho kacang,
gemblong, gendar dengan kelapa parut, puli pecel, tempe mbok Darubi,
nasi tempe mendoan dengan bungkus daun jati, tahu rebus atau bacem,
wedang serbat/jahe disimpan dengan 'jun', hingga yang baru belakangan
hadir seperti bebek dan ayam goreng, pecel lele, gudeg, angkringan malam
dan aneka jajanan yang tak kalah level mutunya dengan eks Pengging atau
Solo. Semua nikmat, all you can eat. Apalagi Simo didukung ketersediaan
air minum yang berkwalitas sehingga masakan dan minuman jadi enak.
Sayang, masakan masakan yang
menjadi trade mark tahun 60an seperti saoto-nya Pak Wiro atau mBok
Mangun Cebleng, panganan Nyah Yute (ibu tua yang warungnya menyajikan
wajik, jenang jadi, krasikan, kue lapis, klepon, ketan bubuk dele, ..
diracik rapi dalam takaran daun pisang - mungkin kalau sekarang masih
ada bisa mengalahkan Ny Week Muntilan), krupuk Pak Marto Krupuk (yang
mengolah sendiri dari singkong mentah menjadi tepung kanji sampai produk
akhir krupuk / bakmi), gule-nya P Kaji Wetan Pasar (mbahnya Ngadenan
dan Rahardjo), semuanya sudah tak berlanjut, karena putera puterinya
tidak ada yang meneruskan.
Simo dulu grosir-nya tape. Tape
pohung Simo kondang manisnya, berpikul-pikul setiap hari dipasok ke
pasar pasar di Solo. Saat itu terminal bis Simo-Solo (hanya ada dua bis,
Eva dan Sridaya) masih berada di depan pasar. Dari sini pedagang
pedagang tape menunggu bis dan menggunakan untuk angkutan ke Solo. Tape
Simo saking manis dan 'njuruh'nya, air tape bercucuran dari atas (atap
bis untuk bagasi), mengenai penumpang yang duduk dipinggir jendela, body
bis pun lengket-lengket. Kunci kelezatan tape Simo ini, selain karena
pohung-nya yang baik, juga ada pada ragi tape yang diproduksi oleh Na
Kok Liong dari jalan Nonongan Solo - kala itu. Sekarang pemandangan ini
sudah tidak dijumpai lagi. Tapi tape pohung, baik yang glondongan model
peuyeum Bandung atau tape gaplek (potongan kecil kecil dibungkus daun
pisang), dan tape ketan item masih bisa dinikmati di pasar ini.
Apa yang ada sekarang masih
sangat memuaskan untuk dicoba sebagai alternatif wisata kuliner, selain
wisata ke Gunung Tugel, Rogo Runting dan seterusnya. Mak nyuus ... rasa
bumbu lawas tenan, berserat bikin badan sehat. Sayang sekarang tinggal
kenangan...
Simo terkeal juga dengan sebutan kota pelajar. Di mana banyak terdapat jenjang sekolah di kecamatan ini.
· Soto
Boyolali terkenal
juga sebagai Kota Soto, dengan banyak warung soto yang terkenal,
seperti Soto Seger Mbok Giyem, Soto Sedap, Soto Rumput, Soto Ndelik,
Soto Nggopir, Soto Ledhok, Soto Ompronx , Soto Mbok Sri depan SMK Dwija
Dharma ,Rumah Makan Elang Sari.
· Sambel Tumpang/Sambel Lethok
Nasi sambal Tumpang merupakan
masakan yang terdiri dari nasi sambal tumpang dan ditambah dengan
sayur-mayur sebagai pelengkap. Jika dilihat dan dipandang sepintas, Nasi
Sambal Tumpang hampir sama dengan Sambal Pecel. Bahkan ada perpaduan
antara sambal Tumpang dengan Sambal Pecel. Rasanya juga terasa enak.
Bedanya sambal tumpang itu sambalnya terbuat dari tempe bosok (busuk)
yang ditumbuk halus. Tempe bosok memang sengaja dibuat busuk dan dijual.
Rasa yang ditimbulkan dari tempe bosok ini yaitu rasa sangit. Namun
rasa dari tempe bosok terasa berbeda ketika sudah diolah menjadi dan
beberapa bumbu lain seperti kencur, daun jeruk, dll. Selain itu, di
dalam Sambal Tumpang ini juga terdapat tahu yang diolah bersama Sambal
Tumpang ini. Nasi Sambal Tumpang ini biasanya cocok untuk dihidangkan
pada pagi hari sebagai menu makan pagi. Apalagi dengan nasi yang masih
hangat. Nasi Sambal Tumpang ini cocok dinikmati dengan lauk Telur,
Tempe, Bakwan, Rambak, Krupuk, dan Ayam.
Sambal tumpang sangat mudah
ditemui di mana-mana, hampir semua warung makan menyediakan, tapi yang
khusus sambel lethok antara lain Mbok Nah di Ampel, Suprih di sebrang KUD Kota Boyolali, timur terminal bis Boyolali, Rumah Makan Elang Sari, dan lain-lain.
Sebagaimana tren "kuliner malam",
banyak warung makan tenda khusus untuk sambel tumpang ini, bahkan
memberi nama "Warung Bubur Tumpang".
· Tahu Susu
Seekor
sapi betina yang baru saja melahirkan biasanya air susunya tak bisa
dijual karena baunya agak amis. Namun, sebenarnya air susu sapi betina
usai melahirkan justru menghasilkan untung besar. Sebagian besar warga
Banjarjo Kelurahan Mriyan Kecamatan Musuk mengolah air susu sapi itu
menjadi tahu susu. Meski agak manis, tahu dari susu sapi banyak
diminati. Tahu jenis ini dipercaya memiliki kandungan gizi yang lebih
tinggi dan menjadi obat untuk gangguan hipertensi. Jika susu murni
dijual Rp 3.500 per satu liter, susu yang sudah menjadi tahu dijual
seharga Rp 5.000. Namun karena susu ini langka (hanya ada jika sapi
betina melahirkan) maka tahu susu ini hanya disantap sendiri oleh yang
empunya. Namun juga ada yang menjualnya meski sedikit. Tahu susu ini
berbeda dengan tahu susu asal lembang. Kalo tahu susu Lembang (dadih)
itu prosesnya ada penambahan senyawa seperti enzim papain atau yang
lain(saya kurang mengerti), namun kalau tahu susu Boyolali, setelah
diperah dari sapi betina yang habis melahirkan langsung dimasukkan wadah
(biasanya plastik) kemudia direbus tanpa menggunakan senyawa apapun
sebagai tambahannya.
Langganan:
Postingan (Atom)









