Minggu, 06 Oktober 2013

Tari Damai





Bupati Boyolali bersama Sekertaris Daerah dan Penari Damai dalam rangka pesta rakya Boyolali. Di halaman Kantor Kabupaten baru

Senin, 30 September 2013

Motif Glugu Seni Boyolali

 BATIK GLUGU

Batik ini merupakan salah satu hasil karya yang dubawa oleh Duta Seni Dan Misi Budaya Kabupaten Boyolali 2013 ke Eropa. disana batik ini sempat dipakai para Peserta saat Upacara HUT NKRI di Kedutaan. sempat seorang warga negara sana menanyakan tentang Batik Indonesia dan Batik Glugu Aseli Boyolali tetap disebut sebagai warisan seni Boyolali.

Bermotif serat pohon kelapa, kerajinan batik glugu kini telah berhasil menambah kekayaan motif batik di Boyolali dengan cirri khasnya yang unik. Bahkan, masyarakat luas dapat menerima kemunculan batik glugu sebagai motif baru dalam tradisi seni kerajinan batik. Sejumlah instansi pemerintah dan perusahaan swasta serta perorangan telah menggunakan batik glugu sebagai seragam batik resmi.
Tidak hanya di lingkungan Pemkab Boyolali saja, tetapi juga intansi lain seperti untuk seragam batik Jateng Visit Year yang dikenakan PNS di propinsi Jateng. Bahkan batik motif serat glugu ini telah menjangkau  instansi pemerintah dan swasta di Jakarta, Kalimantan, Jawa Barat dan Jawa Timur.
Batik glugu diprakarsai kemunculannya oleh Muhammad Amin (43) warga Dukuh Godeg Desa Ngenden Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali. Setelah muncul di pasaran, kini bahkan telah dibuatkan hak paten atas namanya. Ide kreatifnya sebagai pencipta batik glugu muncul saat dirinya menekuni perdagangan kayu glugu tahun 2009 lalu.
“Motif serat glugu ternyata sangat unik, tiap kayu glugu memiliki motif yang selalu berbeda dengan glugu lainnya. Jadi motif serat glugu ini jika dijadikan motif batik jumlahnya akan mencapai jutaan motif,” kata Muhammad Amin yang juga direktur Batik Glugu Abadi.
Menurutnya, sampai saat ini dari galeri yang didirikan di pelosok dukuh Godeg Desa Ngenden Kecamatan Ampel tersebut telah tercipta 3.800 motif batik glugu, termasuk beberapa motif langka yang sudah tidak dapat diproduksi lagi karena sudah tidak ditemukan motifnya lagi.
Sebagaimana motif batik lain, batik glugu pun memiliki filosofi sebagai batik yang memberi kehidupan abadi seperti pohon kelapa yang terus memberikan manfaat saat hidup. Kayu glugunya pun masih sangat bermanfaat, bahkan motif seratnya sangat indah dan beragam hingga sepertinya pohon kelapa itu secara alami telah membatik sendiri dengan motif serat glugunya yang unik dan tiada habis sepanjang massa.

Terselip Ditengah Kota

 Rumah Arca Kridanggo

Lokasi :
Taman kota Sono Kridanggo - Boyolali
Sejarah :
 
 
Kalau dilihat dari luar taman yang tidak begitu menarik ternyata menyimpan berjuta keragaman Boyolali. 
Rumah arca Kridanggo merupakan penampungan benda-benda purbakala yang diketemukan di wilayah boyolali. Penemuan situs purbakala tersebar dari kecamatan selo, cepogo, ampel dan musuk. Rumah arca yang digunakan sejak awal tahun 1990 itu berukuran 12 meter kali 12 meter. 
Rumah arca kridanggo boyolali
Ruang yang sempit dan koleksi yang banyak ini menyebabkan pengunjung yang hendak melihat-lihat peninggalan dari masa Hindu dan Buddha pada abad ke-8 hingga abad ke-10 itu tak nyaman. Nyaris tak tersedia ruang gerak memadai di antara deretan arca batu yang ditemukan di berbagai pelosok Boyolali itu.
Koleksi rumah arca sebagian besar berupa lembu nandi, serta yoni yang merupakan lambang kesuburan wanita. Selain itu, ada pula relief arca berwujud Siwa guru yang bertubuh tambun dan berjanggut serta Siwa Mahadewa. Selain itu, ada pula patung Durga, perempuan bertangan delapan yang menginjak banteng, serta Ganesha dan Wisnu yang menaiki garuda. 
Koleksi arca di museum kridanggo
Yoni & arca nandi
Arca Durga
Antefiks & fragmen arca
Arca nandi
Di luar rumah arca juga terdapat patung Ganesa setinggi 1,5 meter dan yoni yang tingginya sekitar 1 meter yang diketemukan di kecamatan musuk. 
Arca Ganesha & Yoni yg ditemukan di kec.musuk

TAYUB APITAN MILIK JUWANGI

APITAN

Baru kemarin Kecamatan Juwangi, kabupaten Boyolali mengadakan Upacara ritual Apitan. Seperti Upacara ritual sebelumnya Juwangi masih melestarikan budaya ritual Apitannya dengan Tari Tayub.

Tari Tayub merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional yang masih digunakan dalam upacara ritual Apitan. Tari Tayub ditarikan 5 orang penari putra 2 orang penari putri. Pertunjukan Tari Tayub dalam upacara ritual Apitan dilakukan secara rutin pada akhir panen. Tujuannya agar kesuburan, keselamatan Desa Juwangi dikabulkan oleh Yang Kuasa. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah fungsi dan makna simbolis Tari Tayub dalam Upacara Ritual Apitan di Desa Juwangi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fungsi dan makna simbolis Tari Tayub dalam Upacara Ritual Apitan di Desa Juwangi. Tujuan penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah informasi mengenai fungsi dan makna simbolis Tari Tayub dalam Upacara Ritual Apitan di Desa Juwangi bagi masyarakat umum. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Lokasi penelitian di Desa Juwangi Kecamatan Juwangi Kabupaten Boyolali. Sasaran penelitian dalam Tari Tayub yaitu fungsi dan makna simbolis Tari Tayub dalam Upacara Ritual Apitan di Desa Juwangi. Sumber data dari teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan meredukasi data, menyajikan data selanjutnya dilakukan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa Tari Tayub memiliki 2 fungsi yaitu sebagai sarana ritual dalam Upacara Ritual Apitan di Desa Juwangi dan sebagai sarana hiburan pribadi baik pelaku maupun penikmat. Makna simbolis yang terkandung pada Tari Tayub adalah dalam meraih cita-cita kita, hendaknya kita dapat mengendalikan hawa nafsu yang ada pada diri kita dengan cara bermusyawarah dengan sesama, bersilaturahmi dan berkesenian. Berdasarkan hasil penelitian, penulis menyarankan kepada pihak-pihak terkait supaya Tari Tayub terus dikembangkan dan dilestarikan agar tidak punah dengan cara melalui diadakan lomba dalam momen yang tepat, sehingga tetap dikenal dalam masyarakat umum.

Boyolali Seh Wetan

Pengging

Legenda Pengging, Pengging adalah sebuah desa yang terletak di Kelurahan Dukuh, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, tapi sekarang Pengging lebih dikenal oleh masyarakat mencakup 3 Kelurahan yaitu Bendan, Dukuh dan Jembungan. Dengan peninggalan yang tersisa adalah Pemandian Umbul Pengging ,Umbul Sungsang dan Makam Pujangga Yosodipuro.
Pengging juga mempunyai ritual sebaran apem untuk memperingati bulan Sapar, tradisi ini sudah ada sejak jaman R. Ng Yosodipuro. Hal ini dimulai karena pengaruh R. Ng Yosodipura yang berjasa dalam membawa rakyat Pengging dalam meningkatkan hasil pertanian dan mengusir hama. Acara ini sering bertepatan dengan acara Pengging Fair yaitu pesta rakyat dan budaza Pengging yang dilaksanakan mendekati bulan Agustus. Acara ini berlangsung selama seminggu dengan puncak acaranya adalah hari terakhir perayaan ini. Namun beberapa hari sebelumnya di sepanjang jalan Pengging sudah ramai dengan pedagang-pedagang, mulai penjual makanan sampai pakaian tidak hanya pedagang lokal tapi juga dari luar daerah. Acara tersebut tidak hanya diikuti oleh masyarakat Pengging dan sekitarnya tapi juga dikunjungi oleh masyarakat luar Pengging misalnya dari Boyolali, Surakarta, Klaten bahkan luar karisidenan Surakarta.
Pesta rakyat dan budaya Pengging merupakan acara memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia namun karena suatu hal maka sering dilaksanakan sebagai pesta budaya sekaligus memperingati jasa R Ng Yosodipuro dalam bentuk ritual atau upacara tradisi apeman, acara ini mulai diselenggarakan tahun 1967 dan diadakan secara rutin setiap tahun. Pada awalnya dilangsungkan dengan sederhana dan hanya menampilkan satu panggung hiburan. Seiring bertambahnya waktu acara tradisi ini berjalan semakin maju dan semarak dengan berbagai jenis kegiatan dan hiburan. Dengan demikian pengunjung yang datang semakin bertambah banyak dan Pegging menjadi terkenal dengan Obyek Wisata Pemandian Umbul Pengging dan Makam Pujangga Yosodipuro saja namun juga dengan kegiatan tradisi tahunan tersebut.
R. Ng Yosodipuro ádalah seorang Pujangga sekaligus ulama yang menyebarkan agama Islam hidup pada masa pemerintahan Pakubuwono II dikenal sangat dekat dengan kaum petani, karena kearifannya seringkali rakyat Pengging memohon petunjuk termasuk pada saat petani meminta bantuannya untuk mengatasi serangan hama keong mas. Atas petunjuk R. Ng Yosodipuro para petani mengambil keong mas tersebut kemudian dimasak dengan cara dikukus. Sebelumnya keong tersebut dibalut dengan janus yang dibentuk seperti keong mas. Setiap kali panen padi janur bekas balutan keong mas tersbut digunakan untuk membuat apem kukus. Apem kukus itu kemudian dibagi-bagikan pada petani sebagi wujud syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang diberikan dan juga berkurangnya hama keong. Tradisi bagi-bagi apem akhirnya terus berkembang hingga berjalan sampai sekarang. Bagi masyarakat yang percaya jika berhasil mendapatkan apem maka diyakini akan mendatangkan berkat.
Berebut kue apem kukus keong mas dalam acara Saparan di Pengging, kecamata Banyudono, Boyolali sudah merupakan tradisi yang tak mudah untuk ditinggalkan oleh masyarakatnya. Masing-masing RT mengirimkan apem sebanyak 200 buah kemudian dikumpulkan di kantor kecamatan. Acra Saparan dilaksanakan tepat di perempatan depan Masjid Cipto Mulyo, kompleks wisata Umbul Pengging. Malam sebelumnya diadakan prosesi melakukan doa dan tahlil di Masjid Cipto Mulyo dan dilanjutkan ziarah di makam R. Ng Yosodipuro kemudian dilanjutkan dengan upacar kenduri serta Sanggaran.
Selanjutnya ritual diawali dengan kirab budaya dan arak-arakan dua buah gunungan apem serta berbagi macam kesenian daerah setempat. Dimulai di depan kantor kecamatan Banyudono menuju halaman Masjid Cipto Mulyo. Acara ini dihadari oleh pejabat daerah setempat, trah dari R. Ng Yosodipuro serta kerabat Keraton Surakarta Hadiningrat.
1. Acara-acara untuk memeriahkan tradisi ini antara lain:
- Pentas seni dan budaya, yang diadakan disepanjang Jalan Pasar Pengging, acara dimulai dengan pemotongan pita oleh Bupati Boyolali. Kemudian acara karnaval oleh murid TK dan SD , drum band, Reog dan Barongsai. Iring-iringan ini dimulai dari kantor kecamatan Banyudono sampai di depan Obyek Wisata Umbul Pengging. Malamnya dilanjutkan dengan hiburan kesenian, terdapat lima panggung kesenian yaitu: panggung band rock, anak-anak, orkes melayu (dangdut), campursari, dan Wayang kulit dengan lokasi yang sudah dipersiapkan
- Suasana meriah dan ramai dirasakan sejak sore hari, berlanjut hingga tengah malam apalagi pertunjukan wayang kulit yang berlangsung semalam suntuk. Dapat terlihat disini semua jenis kesenian baik modern maupun tradisional dapat berjalan bersama. Sehingga secara tidak langsung acara ini juga dijadikan sebagai sarana promosi dan melestarikan kebudayaan daerah. Pertunjukan wayang kulit dimainkan oleh dalang dari Pengging sendiri karena Pengging mempunyai banyak dalang misalnya : Ki Wardono, Ki Gondo Sawi, Ki Gondo Tomo, Ki Gondo Wajiran, Ki Sabdo Carito, dalang muda Ki Nyoman dan kadang kadang mengundang dalang terkenal seperti Ki Anom Suroto dan Warseno Slank diiringi waranggana lokal misalnya Nyimut, Suparsih, Wayan, Suji diselingi lawak Gogon yang asli Pengging dan bahkan pelawak Srimulat turut serta menyemarakkan acara ini. Hal ini mendorong lahirnya seniman - seniman muda dari Pengging selain itu sanggar karawitan dan tari tradisioanal dibuka di Pengging.
- Diharapkan dengan diadakannya acara ini mendorong semangat generasi muda untuk mencintai dan melestarikan kebudayaan serta memajukan daerahnya tidak hanya melalui kekayaan alam namun juga dengan kesenian, kebudayan dan peninggalan sejarah

Senin, 16 September 2013

Topeng Ireng warisan asli Boyolali


Mendengar kata Topeng Ireng tentu tak lupa dengan kota kecil Boyolali, tarian ini sempat dibawa para siswa siswi sebagai Duta Seni dan Misi Budaya ke Eropa untuk diperkenalkan kepada masyarakat sana. antusias warga Eropa dengan tarian ini membuat penari merasa bangga dengan tarian ini dan melestarikannya.

Topeng Ireng adalah satu bentuk tradisi seni pertujukan yang berasimilasi dengan budaya lokal Jawa Tengah. Topeng Ireng yang juga dikenal sebagai kesenian Dayakan ini adalah bentuk tarian rakyat kreasi baru yang merupakan hasil metamorfosis dari kesenian Kubro Siswo.

Berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat, kesenian Topeng Ireng mulai berkembang di tengah masyarakat lereng Merapi Merbabu sejak zamanpenjajahan Belanda dan dilanjutkan perkembangannya tahun 1960-an Pada saat jaman Pemerintahan Belanda, pemerintah jajahan pada masa lalu melarang masyarakat berlatih silat sehingga warga mengembangkan berbagai gerakan silat itu menjadi tarian rakyatTarian itu diiringi dengan musik gamelan dan tembang Jawa yang intinya menyangkut berbagai nasihat tentang kebaikan hidup dan penyebaran agama Islam

Setelah itu perkembangan Seni Pertunjukan Topeng Ireng berkembang apabila umat Islam membangun masjid atau mushola, sebelum mustaka (kubah) dipasang maka mustaka tersebut akan diarak keliling desa. Kirab tersebut akan diikuti seluruh masyarakat disekitar masjid dengan tarian yang diiringirebana dan syair puji-pujian. Dalam perjalanannya kesenian tersebut berkembang menjadi kesenian Topeng Ireng. Daya tarik utama yang dimiliki oleh kesenian Topeng Ireng tentu saja terletak pada kostum para penarinya. Hiasan bulu warna-warni serupa mahkota kepala suku Indian menghiasi kepala setiap penari. Senada dengan mahkota bulunya, riasan wajah para penari dan pakaian para penari juga seperti suku Indian. Berumbai-rumbai dan penuh dengan warna-warna ceria. Sedangkan kostum bagian bawah seperti pakaian suku Dayak, rok berumbai-rumbai. Untuk alas kaki biasanya mengenakan sepatu gladiator atau sepatu boot dengangelang kelintingan yang hampir 200 buah setiap pemainnya dan menimbulkan suara riuh gemerincing di tiap gerakannya.

Setiap pertunjukan Topeng Ireng akan riuh rendah diiringi berbagai bunyi-bunyian dan suara. Mulai dari suara hentakan kaki yang menimbulkan bunyi gemerincing berkepanjangan, suara teriakan para penari, suara musik yang mengiringi, hingga suara penyanyi dan para penonton. Musik yang biasa digunakan untuk mengiringi pertunjukan Topeng Ireng adalah alat musik sederhana seperti gamelan, kendang, terbang, bende, seruling, dan rebana. Alunan musik ritmis yang tercipta akan menyatu dengan gerak dan teriakan para penari sehingga pertunjukan Topeng Ireng terlihat atraktif, penuh dengan kedinamisan dan religiusitas. Biasanya penarinya terdiri dari 10 orang atau lebih[1] dan membentuk formasi persegi atau melingkar dengan gerak tari tubuh yang tidak terlalu kompleks. Para penari juga terlihat sangat ekspresif dalam membawakan tariannya[5].

Tarian Topeng Ireng sebenarnya mudah untuk dipelajari karena gerakannya yang sederhana. Tidak ada gerak tubuh yang rumit, karena yang menjadi poin utama dari tarian ini adalah kekompakan. Semakin banyak penari yang turut serta, maka semakin indah kolaborasi yang tercipta. Berhubung Topeng Ireng diciptakan sebagai kolaborasi antara syiar agama Islam dan ilmu pencak silat, tarian para penarinya juga berasal dari gerakan-gerakan pencak silat yang telah dimodifikasi sedemikian rupa.

Satu lagi yang menjadi keistimewaan tarian Topeng Ireng dibandingkan kesenian rakyat lainnya adalah gerakannya yang tidak monoton. Dari waktu ke waktu inovasi baru selalu dilakukan dalam tiap pertunjukan Topeng Ireng. Pengembangan unsur-unsur artistikdan koreografi dilakukan supaya penontonnya tidak mengalami kebosanan sekaligus untuk menarik minat kaum muda agar mau bergabung menjadi anggota kelompok Topeng Ireng.

Pertunjukan Topeng Ireng sendiri terbagi menjadi dua jenis tarian. Yang pertama adalah Rodat yang berarti dua kalimat syahadat. Tarian ini ditampilan dengan gerakan pencak silat sederhana serta diiringi lagu-lagu syiar Islami. Jenis tarian lainnya adalah Monolanyang melibatkan penari dengan kostum hewan. Tarian ini melibatkan unsur mistik serta gerak pencak silat tingkat tinggi. Durasipertunjukan Topeng Ireng sangat fleksibel, tidak ada peraturan khusus mengenai lamanya tarian. Penampilan para penari bisa dibuat 15 menit, 10 menit, bahkan 5 menit saja.

Sebagai seni pertunjukan rakyat, pertunjukan Topeng Ireng biasanya dilaksanakan ketika sedang ada acara tertentu semisal upacara bersih desakirab budayafestival rakyat, maupun acara-acara seni tradisi dan budaya lainnya. Tempat dilangsungkannya pertunjukan ini tidak menentu. Namun, daerah yang paling banyak menampilkan pertunjukan Topeng Ireng adalah desa-desa yang terletak di lereng Merapi Merbabu, Jawa Tengah dan hingga saat ini kesenian Dayakan ini telah berkembang di KebumenJawa Tengah.

Maknyus

  Wisata Kuliner

 Maknyus Boyolali, Mantab Boyolali, Pancen Seger.
banyak sekali kuliner yang dapat kita temukan di Boyolali. yang tentunya enek, mantap, maknyus dan sueger. Boyolali pancen gudange kuliner jawa.  
·      Susu Segar
Minuman satu ini jangan sampai terlupakan ketika berada di Boyolali. Terdapat banyak warung dan "wedangan hik" yang menyediakan susu segar, dan tidak hanya itu, susu jadi menu wajib di tempat-tempat favorit jajan dan restoran di Boyolali, misalkan di Roti Bakar Amazon, RM. Elang Sari, dll. Selain susu segar, walau tidak di setiap tempat, suguhan produk turunannya pun mulai bisa diperoleh di Boyolali, misalkan yoghurt dan keju Boyolali.
·      Marning
Marning merupakan makahan tradisional yang terbuat dari jagung yang digoreng. Rasa yang ditawarkan adalah manis, pedas, presto, gepuk, dan lain-lain. Permintaan yang paling banyak terjadi menjelang lebaran sebagai suguhan di rumah maupun oleh-oleh mudik. Pusat pembuatan Marning terdapat di Desa Kiringan, Winong, Kebonbimo & Banaran (kecamatan Boyolali) dan Desa Metuk, Kragilan (Kecamatan Mojosongo).
·      Jadah Selo
Jadah adalah makanan tradisional yang mudah ditemukan di mana saja. Makanan ini terbuat dari ketan dan kelapa. Jadah Selo merupakan makanan khas daerah di Boyolali, tepatnya di kawasan Selo. Namun makanan ini baru terkenal sejak adanya jalur wisata Solo-Selo-Borobudur.Pembelinya tidak hanya kalangan petani saja, namun juga wisatawan yang melewati kawasan ini.
Jadah ini bisa dinikmati dengan cara dibakar maupun tidak. Dengan udara pegunungan yang sejuk, jadah lebih pas dipadukan dengan tempe atau tahu bacem.
·      Pasar Simo
Pasar Simo mempunyai ragam dagangan khususnya makanan yang khas. Dari gudangan (urap) daun adas yang hanya tumbuh di Selo Boyolali, kupat tahu dengan bakmi glepung singkong - lomboknya digerus pake sendok, gule kambing dengan acar bawang merah utuhan, bergedel singkong (ketemu rasa sama di RM ayam goreng Ciganea Jabar), mentho kacang, gemblong, gendar dengan kelapa parut, puli pecel, tempe mbok Darubi, nasi tempe mendoan dengan bungkus daun jati, tahu rebus atau bacem, wedang serbat/jahe disimpan dengan 'jun', hingga yang baru belakangan hadir seperti bebek dan ayam goreng, pecel lele, gudeg, angkringan malam dan aneka jajanan yang tak kalah level mutunya dengan eks Pengging atau Solo. Semua nikmat, all you can eat. Apalagi Simo didukung ketersediaan air minum yang berkwalitas sehingga masakan dan minuman jadi enak.
Sayang, masakan masakan yang menjadi trade mark tahun 60an seperti saoto-nya Pak Wiro atau mBok Mangun Cebleng, panganan Nyah Yute (ibu tua yang warungnya menyajikan wajik, jenang jadi, krasikan, kue lapis, klepon, ketan bubuk dele, .. diracik rapi dalam takaran daun pisang - mungkin kalau sekarang masih ada bisa mengalahkan Ny Week Muntilan), krupuk Pak Marto Krupuk (yang mengolah sendiri dari singkong mentah menjadi tepung kanji sampai produk akhir krupuk / bakmi), gule-nya P Kaji Wetan Pasar (mbahnya Ngadenan dan Rahardjo), semuanya sudah tak berlanjut, karena putera puterinya tidak ada yang meneruskan.
Simo dulu grosir-nya tape. Tape pohung Simo kondang manisnya, berpikul-pikul setiap hari dipasok ke pasar pasar di Solo. Saat itu terminal bis Simo-Solo (hanya ada dua bis, Eva dan Sridaya) masih berada di depan pasar. Dari sini pedagang pedagang tape menunggu bis dan menggunakan untuk angkutan ke Solo. Tape Simo saking manis dan 'njuruh'nya, air tape bercucuran dari atas (atap bis untuk bagasi), mengenai penumpang yang duduk dipinggir jendela, body bis pun lengket-lengket. Kunci kelezatan tape Simo ini, selain karena pohung-nya yang baik, juga ada pada ragi tape yang diproduksi oleh Na Kok Liong dari jalan Nonongan Solo - kala itu. Sekarang pemandangan ini sudah tidak dijumpai lagi. Tapi tape pohung, baik yang glondongan model peuyeum Bandung atau tape gaplek (potongan kecil kecil dibungkus daun pisang), dan tape ketan item masih bisa dinikmati di pasar ini.
Apa yang ada sekarang masih sangat memuaskan untuk dicoba sebagai alternatif wisata kuliner, selain wisata ke Gunung Tugel, Rogo Runting dan seterusnya. Mak nyuus ... rasa bumbu lawas tenan, berserat bikin badan sehat. Sayang sekarang tinggal kenangan...
Simo terkeal juga dengan sebutan kota pelajar. Di mana banyak terdapat jenjang sekolah di kecamatan ini.
·      Soto
Boyolali terkenal juga sebagai Kota Soto, dengan banyak warung soto yang terkenal, seperti Soto Seger Mbok Giyem, Soto Sedap, Soto Rumput, Soto Ndelik, Soto Nggopir, Soto Ledhok, Soto Ompronx , Soto Mbok Sri depan SMK Dwija Dharma ,Rumah Makan Elang Sari.
·      Sambel Tumpang/Sambel Lethok
Nasi sambal Tumpang merupakan masakan yang terdiri dari nasi sambal tumpang dan ditambah dengan sayur-mayur sebagai pelengkap. Jika dilihat dan dipandang sepintas, Nasi Sambal Tumpang hampir sama dengan Sambal Pecel. Bahkan ada perpaduan antara sambal Tumpang dengan Sambal Pecel. Rasanya juga terasa enak. Bedanya sambal tumpang itu sambalnya terbuat dari tempe bosok (busuk) yang ditumbuk halus. Tempe bosok memang sengaja dibuat busuk dan dijual. Rasa yang ditimbulkan dari tempe bosok ini yaitu rasa sangit. Namun rasa dari tempe bosok terasa berbeda ketika sudah diolah menjadi dan beberapa bumbu lain seperti kencur, daun jeruk, dll. Selain itu, di dalam Sambal Tumpang ini juga terdapat tahu yang diolah bersama Sambal Tumpang ini. Nasi Sambal Tumpang ini biasanya cocok untuk dihidangkan pada pagi hari sebagai menu makan pagi. Apalagi dengan nasi yang masih hangat. Nasi Sambal Tumpang ini cocok dinikmati dengan lauk Telur, Tempe, Bakwan, Rambak, Krupuk, dan Ayam.
Sambal tumpang sangat mudah ditemui di mana-mana, hampir semua warung makan menyediakan, tapi yang khusus sambel lethok antara lain Mbok Nah di Ampel, Suprih di sebrang KUD Kota Boyolali, timur terminal bis Boyolali, Rumah Makan Elang Sari, dan lain-lain.
Sebagaimana tren "kuliner malam", banyak warung makan tenda khusus untuk sambel tumpang ini, bahkan memberi nama "Warung Bubur Tumpang".
·      Tahu Susu
Seekor sapi betina yang baru saja melahirkan biasanya air susunya tak bisa dijual karena baunya agak amis. Namun, sebenarnya air susu sapi betina usai melahirkan justru menghasilkan untung besar. Sebagian besar warga Banjarjo Kelurahan Mriyan Kecamatan Musuk mengolah air susu sapi itu menjadi tahu susu.  Meski agak manis, tahu dari susu sapi banyak diminati. Tahu jenis ini dipercaya memiliki kandungan gizi yang lebih tinggi dan menjadi obat untuk gangguan hipertensi. Jika susu murni dijual Rp 3.500 per satu liter, susu yang sudah menjadi tahu dijual seharga Rp 5.000. Namun karena susu ini langka (hanya ada jika sapi betina melahirkan) maka tahu susu ini hanya disantap sendiri oleh yang empunya. Namun juga ada yang menjualnya meski sedikit. Tahu susu ini berbeda dengan tahu susu asal lembang. Kalo tahu susu Lembang (dadih) itu prosesnya ada penambahan senyawa seperti enzim papain atau yang lain(saya kurang mengerti), namun kalau tahu susu Boyolali, setelah diperah dari sapi betina yang habis melahirkan langsung dimasukkan wadah (biasanya plastik) kemudia direbus tanpa menggunakan senyawa apapun sebagai tambahannya.